Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 5 Hari yang Panas dan Haus (T.538)

Bab 5 Hari yang Panas dan Haus (T.538)

Pagi itu, matahari gurun sudah terasa terik bahkan sebelum melewati pertengahan langit. Angin yang biasanya membawa sedikit kesejukan kini justru terasa panas, seolah meniupkan uap dari pasir yang membara. Tidak ada awan yang melintas, hanya langit biru yang begitu bersih, tanpa sedikit pun tanda hujan.

Kawanan unta berjalan perlahan di antara bukit-bukit pasir. Langkah mereka mantap, tapi wajah-wajah mereka mulai menunjukkan kelelahan. Lidah beberapa unta tua terjulur sedikit, dan napas mereka menjadi lebih berat. Unta Kecil, yang biasanya penuh semangat, kini menunduk sambil sesekali menjilat bibirnya yang kering.

“Bu… aku haus sekali,” keluhnya dengan suara serak.

Ibu Unta menoleh, matanya lembut.

“Aku tahu, Nak. Semua juga haus. Tapi kita harus sampai ke oase dulu. Sedikit lagi.”

Kata “sedikit lagi” terasa seperti jarak yang sangat panjang bagi Unta Kecil. Setiap langkahnya membuat pasir masuk ke sela-sela kukunya, membuatnya semakin tidak nyaman. Ia melihat ke depan, mencari tanda-tanda air. Tapi yang terlihat hanya fatamorgana bayangan air yang berkilau di kejauhan, padahal hanyalah pantulan cahaya di atas pasir.

Rami yang berjalan di dekatnya mencoba menghibur:

“Kalau kita sudah sampai, airnya akan terasa dingin sekali. Bayangkan saja itu, pasti kamu kuat menunggu.”

Unta Kecil mencoba membayangkannya: bibirnya menyentuh air jernih, meneguk dalam-dalam, merasakan segarnya mengalir ke tenggorokan. Bayangan itu membuatnya sedikit semangat. Tapi rasa hausnya masih membuat langkahnya berat.

Di tengah perjalanan, mereka beristirahat sebentar di bawah naungan batu besar. Hanya ada sedikit bayangan, tapi cukup untuk melindungi mereka dari teriknya matahari. Lina duduk dengan tenang, mengatur napas. Sementara Badu gelisah, mengeluh tentang panas dan haus.

“Aku mau lari duluan ke oase,” kata Badu setengah bercanda.

“Kalau kau lari sendirian, bisa tersesat,” sahut Rami.

“Lebih baik kita tetap bersama.”

Unta Kecil mendengarkan percakapan itu. Ia merasa keinginannya sama seperti Badu ingin cepat sampai dan langsung minum. Tapi ia tahu Ibu tidak akan mengizinkannya pergi sendiri.

Setelah istirahat, perjalanan dilanjutkan. Matahari semakin tinggi, dan panas terasa seperti menempel di kulit. Unta Kecil mulai menghitung langkahnya untuk mengalihkan pikiran dari rasa haus. Satu… dua… tiga… seratus… seribu… Tapi setiap kali ia berharap melihat oase, yang muncul hanya pasir lagi dan lagi.

Akhirnya, menjelang sore, Ibu Unta menunjuk ke kejauhan.

“Lihat, Nak! Itu oase!”

Unta Kecil menajamkan mata. Benar saja di tengah padang pasir, tampak kilauan air yang dikelilingi pohon kurma. Semangatnya langsung kembali. Ia mempercepat langkah, tapi Ibu menahannya.

“Ingat, kita harus menunggu giliran,” ujar Ibu dengan tegas namun lembut.

Unta Kecil menghela napas. Lagi-lagi menunggu. Panas, haus, dan rasa lelah bercampur jadi satu. Ia merasa menunggu kali ini akan menjadi yang paling sulit dalam hidupnya. Ia belum tahu, inilah awal dari pelajaran terbesar yang akan ia pelajari tentang kesabaran.

===================================================================

Garahan, 14 Agustus 2025 / Kamis, 19 Safar 1447 H, 07.33 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post