Bab 7 Giliran yang Dinanti (T.538)
Barisan unta bergerak pelan, tapi pasti. Setiap kali seekor unta selesai minum, suara cipratan air terdengar, membuat rasa haus Unta Kecil semakin tak tertahankan. Air di oase berkilau memantulkan cahaya sore, seperti permata biru yang memanggil-manggilnya.
“Kita sebentar lagi, Nak,” kata Ibu Unta, mencoba menenangkan.
“Sebentar lagi” bagi Unta Kecil terasa seperti selamanya. Ia melangkah maju setengah hati, matanya terus terpaku pada air yang begitu dekat. Rami di depannya tampak santai, bahkan sempat mengobrol dengan unta di sebelahnya.
Unta Kecil tidak bisa tenang. Ia berdiri dengan kaki gelisah, telinganya bergerak-gerak setiap mendengar suara air. Kenapa semua ini terasa begitu lama? pikirnya.
Akhirnya, hanya tinggal satu unta di depan mereka. Seekor unta besar sedang menundukkan kepalanya, meneguk air dengan pelan. Setiap tegukan terdengar jelas. Unta Kecil ingin berteriak,
“Cepatlah minumnya!” tapi ia menahan diri karena tatapan lembut Ibu yang mengingatkannya untuk bersabar.
Setelah beberapa saat, unta besar itu mengangkat kepalanya, air masih menetes dari bibirnya. Ia melangkah menjauh dengan langkah berat tapi puas.
“Sekarang giliran kita,” ucap Ibu dengan senyum.
Jantung Unta Kecil berdegup cepat. Ia melangkah maju, dan udara terasa lebih sejuk di tepi air. Bayangan pohon kurma memantul di permukaan yang jernih. Tanpa menunggu lama, ia menundukkan kepalanya dan Segar! Air dingin menyentuh bibirnya, mengalir masuk ke tenggorokan yang kering sejak pagi. Rasanya seperti semua rasa lelah, panas, dan kesal menguap seketika. Ia minum dalam-dalam, tak peduli kalau sebagian air menetes ke pasir.
“Pelan-pelan, Nak. Nikmati setiap teguk,” kata Ibu sambil tersenyum.
Unta Kecil mencoba memperlambat minumnya. Ia menutup mata, merasakan kesejukan air. Setiap teguk membuat tubuhnya seperti hidup kembali. Ia mulai mengerti kenapa Ibu selalu bilang bahwa menunggu akan membuat hasil terasa lebih manis karena ia benar-benar merasakannya sekarang.
Setelah puas, ia mengangkat kepala, air menetes dari dagunya. Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum lebar:
“Bu… ternyata menunggu itu membuat air ini terasa lebih enak dari yang aku bayangkan.”
Ibu mengangguk:
“Itulah yang Ibu maksud. Sabar bukan hanya membuat hati tenang, tapi juga membuat kita lebih menghargai apa yang kita dapatkan.”
Unta Kecil menatap air yang beriak tenang. Ia merasa sedikit bangga pada dirinya sendiri. Meski sempat ingin menyerah, ia berhasil menunggu sampai gilirannya tiba.
Sore itu, di tepi oase yang teduh, Unta Kecil menyimpan pelajaran baru dalam hatinya pelajaran yang mungkin akan ia ingat sepanjang hidup.
=================================================================
Garahan, 15 Agustus 2025 / Jumat, 20 Safar 1447 H, 07.58 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
