Bab 8 Pelajaran dari Ibu (T.539)
Setelah puas minum, Unta Kecil duduk di bawah naungan pohon kurma. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma manis buah kurma yang bergelantungan di atas. Ia masih bisa merasakan sisa kesejukan air di tenggorokannya, dan tubuhnya terasa ringan.
Ibu Unta duduk di sampingnya, menatap permukaan oase yang berkilau. Beberapa unta lain masih minum, sementara sebagian lagi sudah berjalan pergi. Suasananya tenang, jauh berbeda dari keramaian saat mereka pertama datang.
“Nak,” kata Ibu sambil menoleh,
“Tadi kamu menunggu cukup lama. Apa yang kamu rasakan sekarang?”
Unta Kecil berpikir sejenak.
“Awalnya… aku kesal sekali. Rasanya nggak adil harus menunggu. Tapi setelah minum, aku malah senang dan… puas.”
Ibu mengangguk pelan:
“Itu karena kamu merasakan hasil dari kesabaran. Sabar itu seperti menanam biji kurma. Kalau kita menunggu, menyiram, dan merawatnya, suatu hari akan tumbuh pohon besar yang memberi teduh dan buah manis. Tapi kalau kita terburu-buru dan menyerah, pohon itu takkan pernah tumbuh.”
Unta Kecil mengerutkan kening:
“Tapi kalau haus, kan susah untuk sabar.”
Ibu tersenyum:
“Memang susah. Sabar itu bukan berarti kita tidak merasa ingin segera. Sabar berarti kita tahu kapan waktunya bertindak dan kapan waktunya menunggu. Dan saat menunggu, kita berusaha menenangkan hati.”
Ia menunjuk ke arah unta tua yang sedang duduk di seberang oase:
“Lihat unta itu. Dia sudah melewati banyak perjalanan, banyak antrian, banyak panas. Dia tahu, marah atau gelisah tidak akan membuat air datang lebih cepat. Jadi dia memilih duduk, bernapas, dan menikmati waktunya sambil menunggu.”
Unta Kecil memperhatikan unta tua itu. Memang benar, wajahnya terlihat damai. Seolah panas dan haus tak mampu mengusik ketenangannya.
Ibu melanjutkan:
“Kesabaran itu bukan hanya soal air atau antrian, Nak. Dalam hidup, banyak hal yang akan membuatmu ingin cepat-cepat. Tapi kalau semua dilakukan terburu-buru, sering kali kita justru kehilangan keindahan prosesnya.”
Unta Kecil terdiam. Kata-kata itu mulai masuk ke pikirannya, walau ia masih mencoba memahaminya sepenuhnya.
“Dan ingat,” tambah Ibu sambil menatap matanya, “kesabaran itu juga membuat kita lebih menghargai apa yang kita dapatkan. Sama seperti air tadi kalau kamu langsung mendapatkannya tanpa menunggu, mungkin rasanya tidak akan sesegar ini.”
Unta Kecil tersenyum kecil:
“Jadi… kalau aku sabar, aku bisa lebih bahagia?”
Ibu mengangguk:
“Betul. Sabar membuat hati tenang, dan hati yang tenang bisa melihat keindahan di sekitarnya.”
Sore itu, di bawah pohon kurma, pelajaran itu tertanam di hati Unta Kecil pelajaran tentang bagaimana menunggu dengan tenang bisa membuat segala sesuatu terasa lebih indah.
=================================================================
Garahan, 16 Agustus 2025 / Sabtu, 21 Safar 1447 H, 09.39 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
