Bab 9 Godaan di Perjalanan Pulang (T.540a)
Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang membuat pasir gurun tampak seperti lautan emas. Rombongan unta bersiap meninggalkan oase. Perut Unta Kecil kini terasa nyaman, dan tenggorokannya tak lagi kering. Ia melangkah di samping Ibu dengan langkah ringan.
Namun, perjalanan pulang ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Di tengah gurun, angin membawa aroma manis yang membuat perutnya bergejolak lagi. Ia menoleh ke arah kiri, dan di kejauhan terlihat sebuah kebun kurma milik penduduk. Pohon-pohonnya menjulang, penuh dengan buah yang warnanya merah kecokelatan, tanda siap panen.
“Bu… lihat, kurma!” seru Unta Kecil.
Ibu menoleh, lalu tersenyum:
“Iya, Nak. Itu milik Pak Karim. Dia menanamnya bertahun-tahun. Hasilnya manis sekali.”
Mata Unta Kecil berbinar:
“Bolehkah kita mampir sebentar dan makan?”
Ibu menggeleng pelan:
“Kita tidak boleh mengambil tanpa izin. Lagipula, Pak Karim baru akan memetiknya besok. Kalau kita mau, kita harus datang lagi saat dia sudah siap membagi atau menjualnya.”
Unta Kecil mengerutkan kening:
“Tapi aku mau sekarang…”
Ibu berhenti sejenak, lalu berkata:
“Nak, ingat pelajaran di oase tadi. Sabar berarti menunggu waktu yang tepat. Kalau kita terburu-buru, kita bisa melukai pohon atau membuat pemiliknya sedih.”
Unta Kecil melanjutkan berjalan, tapi matanya terus tertuju pada kebun kurma yang makin menjauh. Di kepalanya, ia membayangkan menggigit kurma yang manis dan lembut. Godaan itu begitu besar.
Tak lama kemudian, mereka melewati sebuah batu besar. Di balik batu, seekor tupai gurun sedang memegang setangkai kurma dan memakannya lahap-lahap:
“Lihat, Bu! Tupai itu makan. Kenapa kita nggak boleh?” protes Unta Kecil.
Ibu tersenyum tipis:
“Tupai itu mengambil buah yang jatuh. Itu berbeda. Dia tidak memetik dari pohon sebelum waktunya.”
Kata-kata itu membuat Unta Kecil terdiam. Ia mulai sadar, ada perbedaan antara mengambil yang tersedia dan memaksakan untuk mendapatkannya sebelum saatnya.
Rombongan melanjutkan perjalanan. Perlahan, kebun kurma menghilang di balik bukit pasir. Unta Kecil menghela napas panjang, mencoba menerima bahwa ia harus menunggu sampai esok atau lain waktu.
Ibu menepuk punggungnya lembut:
“Kamu sudah melakukan hal yang tepat, Nak. Menahan diri dari sesuatu yang kamu mau sekarang, demi kebaikan yang lebih besar nanti, itulah kesabaran yang sebenarnya.”
Unta Kecil tersenyum tipis, merasa sedikit bangga. Ia mulai mengerti bahwa godaan adalah ujian dan ia baru saja melewati salah satunya.
=================================================================
Garahan, 17 Agustus 2025 / Ahad, 22 Safar 1447 H, 11.52 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
