Belajar sabar bersama si Unta kecil (T.534a)
Di tengah hamparan gurun yang luas, di bawah langit biru yang seakan tak berujung, seekor unta kecil berlari-lari kecil di sekitar ibunya. Pasir emas bergelombang sejauh mata memandang, berkilauan diterpa sinar matahari. Angin gurun berhembus lembut, membawa aroma hangat khas padang pasir.
Unta Kecil memiliki bulu berwarna cokelat muda, matanya bulat besar seperti kaca yang memantulkan cahaya. Ia lahir di tengah musim semi, ketika kaktus-kaktus mulai berbunga dan oase masih penuh dengan air. Sejak kecil, ia dikenal lincah, penuh rasa ingin tahu, dan suka bertanya.
“Ibu… kenapa pasirnya selalu bergerak?” tanyanya sambil melihat butiran pasir yang berterbangan tertiup angin.
“Itu angin gurun yang bermain-main,” jawab Ibu sambil tersenyum.
Unta Kecil senang menjelajah. Ia sering berjalan agak jauh dari kawanan untuk melihat batu-batu aneh, menatap langit saat burung padang pasir melintas, atau sekadar mendengarkan suara dedaunan kering yang tertiup angin. Baginya, gurun adalah rumah yang penuh rahasia.
Hari itu, kawanan unta sedang beristirahat di bawah pohon kurma yang tumbuh di tepi oase. Beberapa unta tua duduk sambil memamah biak, sementara anak-anak unta berlarian bermain. Oase itu seperti permata di tengah gurun: airnya jernih, memantulkan langit, dikelilingi pohon kurma yang daunnya bergoyang pelan.
“Minum dulu, Nak,” kata Ibu sambil mengajak Unta Kecil mendekat ke air.
Namun, Unta Kecil tahu ada aturan: semua unta harus minum bergiliran, mulai dari yang paling tua, lalu yang dewasa, baru anak-anak. Aturan ini sudah ada sejak lama, untuk memastikan semua mendapat bagian air dengan tertib.
Unta Kecil memperhatikan seekor unta tua berjalan perlahan menuju air:
“Kenapa kita harus menunggu, Bu? Aku kan haus sekali,” keluhnya sambil mengerucutkan bibir.
Ibu mengelus kepalanya lembut:
“Karena semua di sini sama-sama butuh air. Kalau kita sabar menunggu, semua akan dapat giliran.”
Unta Kecil menghela napas panjang. Menunggu bukanlah hal yang ia sukai. Ia ingin segera mencelupkan bibirnya ke air yang segar itu, membasahi tenggorokannya yang kering. Tapi ia juga tidak mau dimarahi kawanan karena menyerobot.
Sambil duduk di samping ibunya, Unta Kecil memandangi air oase yang berkilauan. Di dalamnya, ia bisa melihat bayangannya sendiri:
“Andai saja aku bisa minum duluan… pasti rasanya enak sekali,” pikirnya.
Namun, ia tak tahu bahwa hari-hari berikutnya akan menjadi pelajaran besar baginya. Pelajaran yang tidak hanya membuatnya mengerti arti menunggu, tapi juga menemukan ketenangan di dalam hati.
Hari itu, ia masih menjadi Unta Kecil yang belum sabar. Tapi perjalanan panjang di gurun akan mengubahnya menjadi unta yang mengerti arti kesabaran dan itu semua dimulai dari oase kecil ini.
=================================================================
Garahan, 10 Agustus 2025 / Ahad, 15 Safar 1447 H, 13.11 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
