Belajar Sabar bersama si Unta kecil (T.535)
Bab 2: Kebiasaan Minum di Oase
Setiap beberapa hari sekali, kawanan unta akan berjalan bersama menuju oase. Perjalanan itu bukan hanya sekadar untuk minum, tetapi juga menjadi momen berkumpul dan saling menyapa antar kawanan yang berbeda. Di gurun yang luas, oase adalah tempat yang sangat berharga sumber kehidupan bagi semua makhluk di sekitarnya.
Bagi Unta Kecil, oase adalah tempat yang indah sekaligus membosankan. Indah, karena ia bisa melihat air jernih, pohon kurma yang rimbun, dan mendengar suara burung kecil yang riang bernyanyi di antara dahan. Membosankan, karena ia selalu harus menunggu giliran untuk minum.
Di oase itu, sudah ada aturan yang diwariskan dari generasi ke generasi:
“Unta tertua minum lebih dahulu, lalu yang dewasa, baru anak-anak.” Aturan ini dibuat bukan tanpa alasan. Unta tua biasanya lebih lemah dan membutuhkan tenaga ekstra untuk bertahan hidup di gurun. Unta dewasa yang membawa beban berat juga perlu segera mengisi cadangan air di tubuh mereka. Baru setelah semua itu terpenuhi, giliran anak-anak unta tiba.
Pagi itu, matahari sudah mulai meninggi ketika kawanan sampai di tepi oase. Pasir terasa panas di bawah kaki. Dari kejauhan, air berkilauan seperti cermin biru. Unta Kecil langsung bersemangat.
“Akhirnya… aku akan minum!” pikirnya sambil mempercepat langkah.
Tapi sebelum ia sampai ke tepi air, Ibu menahannya.
“Ingat, Nak. Kita menunggu giliran.”
Unta Kecil menghela napas panjang. Ia melihat Unta Tua berjalan pelan menuju air. Satu per satu unta tua minum dengan tenang, menghirup air sambil mengembuskan napas lega. Setelah itu, unta-unta dewasa bergantian menundukkan kepala, mengisi perut mereka yang haus.
Waktu terus berjalan. Unta Kecil hanya bisa duduk di dekat Ibu, menatap air dengan mata berbinar sekaligus cemas. Bibirnya kering, tenggorokannya mulai terasa gatal. “Bu… kenapa mereka lama sekali?” keluhnya.
Ibu tersenyum lembut.
“Karena mereka juga sama hausnya seperti kita. Kalau kamu sabar, nanti minumnya terasa lebih nikmat.”
Unta Kecil mengernyit.
“Tapi aku tidak suka menunggu…”
Ibu hanya mengelus kepalanya:
“Kalau kita memaksa minum duluan, kita melanggar aturan dan membuat yang lain kesal. Sabar itu seperti payung di gurun membuat kita teduh walau panas menyengat.”
Unta Kecil diam, tapi hatinya masih kesal. Ia memperhatikan seekor anak unta lain yang duduk santai, bahkan sambil bermain dengan bayangannya di pasir:
“Kenapa dia bisa santai begitu, ya? Padahal haus juga…” pikirnya.
Giliran anak-anak unta akhirnya tiba. Begitu Ibu memberi isyarat, Unta Kecil segera berjalan ke tepi air. Ia menunduk, mencelupkan bibirnya, dan ahhh! air dingin itu mengalir di tenggorokannya seperti sungai sejuk yang memadamkan rasa panas.
“Enak, kan?” tanya Ibu sambil tersenyum.
Unta Kecil mengangguk. Memang, setelah menunggu begitu lama, air itu terasa lebih nikmat dari yang ia bayangkan. Tapi di dalam hatinya, ia masih bertanya-tanya, “Kalau saja aku minum duluan, apakah rasanya akan sama?”
Ia belum tahu, bahwa jawaban itu akan ia temukan dalam perjalanan panjang berikutnya.
=================================================================
Garahan, 11 Agustus 2025 / Senin, 16 Safar 1447 H, 07.01 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
