Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Belajar sabar bersama si Unta kecil (T.536)

Belajar sabar bersama si Unta kecil (T.536)

Bab 3: Teman-teman di Kawanan

Unta Kecil hidup di dalam kawanan yang cukup besar. Ada lebih dari dua puluh unta di dalamnya, mulai dari yang tua hingga anak-anak. Mereka semua memiliki kepribadian yang berbeda-beda, dan Unta Kecil selalu tertarik untuk mengenal setiap dari mereka.

Pagi itu, setelah semua unta selesai minum, kawanan berkumpul di bawah pohon kurma yang rindang. Matahari sudah mulai terasa terik, dan angin gurun berhembus membawa butiran pasir yang halus. Unta Kecil duduk bersama teman-temannya, sambil memainkan kaki depannya di pasir.

Ada bernama Rami, yang tubuhnya lebih tinggi dan kuat. Rami terkenal suka bercerita tentang perjalanan jauh yang pernah ia lalui.

“Kalian tahu tidak? Gurun ini punya bukit pasir yang kalau kita naik ke puncaknya, kita bisa melihat matahari terbenam paling indah!” ceritanya sambil mengangkat kepalanya tinggi.

Lalu ada Lina, anak unta betina yang paling sabar di antara mereka. Lina tidak pernah mengeluh saat menunggu giliran minum. Ia selalu duduk tenang, kadang sambil menatap langit atau menggambar bentuk-bentuk di pasir dengan kakinya. “Kalau kita sibuk bermain, waktu menunggu terasa sebentar,” ujarnya suatu kali.

Selain itu, ada Badu, unta kecil yang agak nakal. Badu sering sekali mencoba menyerobot giliran minum, tapi selalu diingatkan oleh ibunya.

“Aku cuma mau cepat minum!” katanya sambil tertawa. Meski begitu, ia tetap disukai teman-temannya karena selalu punya ide permainan baru.

Unta Kecil senang bermain bersama mereka. Kadang mereka berlari mengejar bayangan awan, kadang mereka membuat jejak kaki di pasir untuk kemudian dihapus angin. Tapi di antara semua temannya, Unta Kecil paling kagum pada Lina.

Suatu sore, ketika kawanan sedang istirahat, Unta Kecil duduk di samping Lina. “Lina, kenapa kamu bisa sabar sekali menunggu giliran? Aku kalau haus rasanya ingin langsung lari ke air.”

Lina tersenyum.

“Aku juga haus, kok. Tapi aku pikir, kalau semua berebut, malah jadi ribut. Lebih baik aku tunggu dengan hati tenang, biar nanti minumnya terasa lebih enak.”

Jawaban itu membuat Unta Kecil terdiam. Ia belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Selama ini, ia hanya fokus pada rasa hausnya sendiri, tanpa memikirkan perasaan unta lain.

Sore semakin larut, langit gurun berubah menjadi jingga keemasan. Rami memanggil mereka untuk melihat matahari terbenam dari bukit pasir kecil di dekat oase. Unta Kecil berlari bersama Lina dan Badu. Dari puncak bukit, mereka melihat bola matahari perlahan tenggelam di balik lautan pasir.

“Indah sekali…” bisik Unta Kecil. Saat itu, ia menyadari bahwa hal-hal yang indah memang layak untuk ditunggu. Dan mungkin, minum setelah menunggu lama juga termasuk salah satunya.

Namun, Unta Kecil belum sepenuhnya mengerti. Ia masih harus belajar banyak dan gurun yang luas ini masih punya banyak pelajaran untuknya.

=================================================================

Garahan, 12 Agustus 2025 / Selasa, 17 Safar 1447 H, 08.46 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post