Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Belajar Sabar bersama si Unta kecil (T.537)

Belajar Sabar bersama si Unta kecil (T.537)

Bab 4: Karakter Unta Kecil

Unta Kecil adalah sosok yang penuh energi. Sejak membuka mata di pagi hari, ia selalu ingin melakukan sesuatu berlari, menjelajah, atau sekadar berbicara dengan siapa saja yang mau mendengarnya. Tubuhnya memang kecil dibandingkan unta dewasa, tapi langkahnya cepat dan matanya selalu berbinar penuh rasa ingin tahu.

Ia suka bertanya tentang segala hal:

“Bu, kenapa pasir bisa panas sekali?” atau “Kenapa bulan kadang besar, kadang kecil?” Bahkan Unta Tua di kawanan kadang tertawa sambil berkata:

“Kamu ini seperti matahari yang tak pernah berhenti bersinar.”

Namun, di balik sifat cerianya, Unta Kecil punya kelemahan besar: ia sulit menunggu. Ketika ingin sesuatu, ia ingin segera mendapatkannya. Jika lapar, ia akan merajuk minta makan. Jika haus, ia akan terus mengeluh sampai tiba waktunya minum.

Badu, teman dekatnya, pernah berkata sambil tertawa:

“Kamu itu seperti badai pasir datang cepat dan ingin semua selesai sekarang juga!” Unta Kecil hanya nyengir, tidak merasa tersinggung. Baginya, hidup terlalu singkat untuk menunggu lama-lama.

Ibu Unta sering mencoba menasihatinya:

“Nak, gurun ini mengajarkan kita bahwa segalanya perlu waktu. Pohon kurma tidak langsung tinggi dalam sehari. Air tidak langsung memenuhi oase dalam semalam. Bahkan kita, unta, tidak bisa berjalan cepat tanpa beristirahat.”

Tapi Unta Kecil selalu merasa bahwa menunggu itu membuang-buang waktu. Ia lebih suka bergerak, melakukan sesuatu, atau memikirkan cara untuk mempercepat segalanya.

Suatu sore, ketika kawanan sedang beristirahat, Unta Kecil mencoba bermain sendiri. Ia membuat jejak di pasir dan menghitung berapa lama angin menghapusnya. Namun, angin bertiup pelan, dan jejak itu tidak juga hilang. Ia mulai gelisah:

“Kenapa lama sekali?” gerutunya.

Lina yang melihat dari jauh mendekat:

“Kalau mau cepat hilang, kamu harus tunggu sampai anginnya kencang. Tapi kalau kamu nikmati prosesnya, menunggu jadi menyenangkan.”

Unta Kecil terdiam. Kata-kata itu lagi-lagi membuatnya berpikir. Ia mulai menyadari bahwa hampir semua hal di gurun berjalan perlahan. Matahari terbit perlahan, matahari terbenam perlahan, bahkan perjalanan kawanan pun tidak pernah terburu-buru.

Meski begitu, mengubah sifatnya bukan hal yang mudah. Keesokan harinya, saat giliran minum tiba, ia tetap merasa gelisah saat harus mengantri. Ia menggoyang-goyangkan kaki, mengibaskan ekor, dan sesekali melirik ke air.

Ibu Unta memperhatikan tingkahnya sambil tersenyum. Ia tahu, perubahan butuh waktu. Mungkin suatu hari nanti, anaknya ini akan mengerti bahwa kesabaran bukan sekadar menunggu, tapi juga menjaga hati tetap tenang saat menunggu.

Hari itu, Unta Kecil belum sabar. Tapi gurun yang luas, perjalanan panjang, dan pengalaman baru akan mengajarinya sedikit demi sedikit. Dan pelajaran itu akan datang lebih cepat dari yang ia bayangkan.

================================================================

Garahan, 13 Agustus 2025 / Rabu, 18 Safar 1447 H, 00.39 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post