Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.527a)
Bab 25: Surat dari Langit
Pagi itu, langit begitu jernih. Awan-awan tipis melayang lembut seolah ingin menari di atas taman. Burung-burung bernyanyi riang, dan angin bertiup pelan membawa wangi bunga liar yang mulai bermekaran.
Hira duduk di atas batu datar di dekat kolam, tempat favoritnya untuk merenung. Sejak Limo terbang tinggi sebagai kupu-kupu, taman terasa berbeda. Ada rasa rindu yang tumbuh diam-diam di dalam hatinya bukan karena Limo pergi, tetapi karena Limo telah berubah dan menemukan jalannya.
Namun Hira tahu, cinta sejati adalah tentang memberi ruang. Ia selalu percaya bahwa siapa pun yang tumbuh, suatu saat akan kembali entah sebagai bayangan, kenangan, atau pesan dari langit.
Dan benar saja, pagi itu seekor burung pipit kecil datang menghampirinya. Di paruhnya, burung itu menggenggam sehelai daun kecil yang digulung rapi.
“Ini… dariku?” tanya Hira dengan mata membesar.
Burung pipit mengangguk dan meletakkan daun itu di depan Hira, lalu terbang kembali menembus langit biru.
Hira membuka gulungan daun itu pelan-pelan. Di dalamnya, ada bekas goresan halus dari serbuk warna-warni yang membentuk huruf-huruf kecil. Tulisannya tidak sempurna, tapi terasa hangat dan tulus. Itu tulisan Limo.
Untuk Hira, si ulat kecil yang sabar...
Dari atas langit ini, aku melihatmu dengan mata baru. Kau tetap di sana, kuat seperti akar bunga yang bertahan meski diterpa hujan. Kau tetap menungguku tanpa keluh, saat semua makhluk lain mengira aku telah hilang. Kau tetap percaya pada perubahan meski belum melihat hasilnya.
Hari ini aku telah menjadi kupu-kupu. Tapi bukan hanya karena waktu atau alam, Hira. Aku menjadi kupu-kupu karena hatimu. Karena ketulusanmu, kesabaranmu, dan keyakinanmu.
Aku tahu, setiap makhluk di taman ini akan tumbuh. Tapi tidak semua punya teman sepertimu, yang mendampingi tanpa menuntut, yang menunggu tanpa pamrih, yang menguatkan tanpa banyak bicara.
Jika aku boleh memilih, aku ingin menjelma menjadi angin, agar bisa selalu menyentuhmu. Tapi aku tahu, aku punya perjalanan lain yang harus kulalui. Maka kuucapkan terima kasih, Hira. Terima kasih telah menjadi rumah hatiku saat aku belum tahu ke mana arahku.
Kita akan bertemu lagi dalam bunga yang mekar, dalam warna langit senja, atau mungkin dalam cerita yang kau bagi kepada ulat-ulat kecil lainnya.
Dari langit, Limo
Hira menutup surat itu dengan tangan gemetar. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum. Ia tak perlu mengejar Limo, karena Limo sudah menyisakan jejak di hatinya jejak yang tak akan pernah hilang.
Dari balik semak, teman-temannya yang ikut mendengar membaca surat itu ikut terharu. Bahkan seekor kumbang tua tak kuasa menahan air matanya.
“Surat yang indah,” kata Riri.
Hira mengangguk:
“Ia mungkin telah jauh, tapi cintanya tetap menyentuh tanah ini.”
Dan hari itu, taman kembali bergema dengan harapan. Karena kini, para ulat kecil tahu bahwa setiap perubahan butuh waktu. Dan setiap perjalanan, pasti memiliki sahabat yang menguatkan.
=================================================================
Garahan, 03 Agustus 2025 / Ahad Pahing, 08 Safar 1447 H, 22.16 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
