Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.529a)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.529a)

Bab 28: Sayap yang Tak Terlihat

Di dalam keheningan kepompong, Hira tidak benar-benar tidur. Ia terjaga dalam sunyi yang lembut, dikelilingi oleh selimut benang yang ia buat sendiri. Gelap. Hangat. Damai. Tapi tidak kosong.

Ada sesuatu yang bekerja diam-diam di balik kulit kepompong itu. Ada tarikan dan tekanan. Ada pergeseran halus pada bagian tubuhnya. Tubuhnya yang dulu panjang dan lentur perlahan menyusut, membentuk sesuatu yang baru. Bukan kaki-kaki ulat, bukan tubuh mungil yang merayap, tapi sesuatu yang belum ia pahami namun mulai ia rasakan.

Sayap.

Ia belum melihatnya. Tapi ia tahu, dari denyut lembut yang tumbuh di kedua sisi punggungnya. Sayap yang belum terbuka. Sayap yang masih menyatu dalam jaringan daging yang berkembang.

"Apakah ini sakit?" batin Hira.

Tapi tak ada rasa perih. Yang ada hanyalah rasa tak nyaman. Rasa seperti sedang ditarik ke arah yang tak biasa. Seperti seseorang yang belajar berjalan untuk pertama kali setelah lama berbaring. Seperti seseorang yang sedang belajar menjadi dirinya yang baru.

Dalam gelap, ia mendengar suara-suara samar.

Suara Riri tertawa. Suara Niko kecil bercerita. Suara angin yang dulu menggodanya saat ia ketakutan. Semuanya berputar dalam kepalanya, seperti potongan mimpi. Namun kali ini, mimpi itu bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dihidupi.

"Apakah aku masih Hira?" ia bertanya dalam diam.

Dan dari kedalaman dirinya, suara yang lembut menjawab,

“Kau selalu Hira. Tapi bukan Hira yang lama. Kau sedang tumbuh menjadi Hira yang baru.”

Ia mengingat semua kegelisahannya dulu: takut tertinggal, takut gagal, takut tak cukup berani untuk berubah. Namun kini, dalam diam dan gelap, semua ketakutan itu luruh. Karena di dalam diam itulah keberanian sejati sedang bertumbuh.

Hari berganti hari. Tubuh Hira kian kokoh. Sayapnya mulai terbentuk, meski belum bisa ia gerakkan. Namun ia bisa merasakannya, seperti merasakan detak jantung yang siap melonjak.

Di luar, dunia berjalan seperti biasa. Tapi mereka yang tahu, terus menunggu. Riri kadang naik ke daun yang lebih tinggi, memandang kepompong Hira dari kejauhan.

"Sebentar lagi," bisiknya.

"Aku tahu kau mendekat."

Sementara itu, angin yang lembut sesekali menyentuh kulit luar kepompong, seperti mengajak Hira bicara.

“Sudah waktunya membuka mata,” bisik angin suatu pagi.

Dan benar. Untuk pertama kalinya, Hira bisa melihat cahaya dari celah benang-benangnya. Cahaya itu tidak menyilaukan. Ia lembut, seperti fajar pertama yang membangunkan tidur panjang.

Cahaya itu menari di ujung benang, memantulkan warna-warna keemasan. Ia tahu, saat itu akan datang. Saat di mana ia akan merobek diam. Saat ia tak lagi hanya merasa, tapi benar-benar melihat: sayapnya sendiri.

=================================================================

Garahan, 06 Agustus 2025 / Rabu Kliwon, 11 Safar 1447 H, 07.27 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post