Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.531)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.531)

Bab 29: Retakan Terakhir, Terbitnya Sang Cahaya

Pagi itu, langit belum sepenuhnya terang. Warna biru masih bercampur jingga lembut. Daun-daun bergetar halus, dan embun menggantung seperti mutiara di ujungnya. Tapi suasana di taman terasa berbeda. Seperti ada sesuatu yang akan lahir. Sesuatu yang telah lama dinantikan.

Riri si semut kecil duduk di ujung batang alang-alang, matanya menatap satu titik: kepompong Hira.

“Kak Hira… apa kau mendengarku?” bisiknya pelan.

“Hari ini… taman ini menunggumu.”

Dan benar. Di dalam kepompong, Hira perlahan membuka matanya. Cahaya telah menyelinap melalui celah benang-benang yang mulai menipis. Tubuhnya terasa penuh energi. Sayapnya menggeliat. Kini ia tak hanya bisa merasakannya… ia bisa menggerakkannya.

Krk…

Terdengar suara halus. Sebuah garis tipis muncul di sisi luar kepompong. Hira menahan napas. Ia tahu, ini retakan pertama retakan yang menandai akhir dari keheningan dan awal dari kebebasan.

Tapi ia tak terburu-buru. Ia menunggu beberapa detik, merasakan detak jantungnya, mendengar suara daun bergesekan, dan mencium aroma pagi. Ia ingin mengingat semuanya.

Lalu dengan gerakan lembut namun yakin, ia mendorong retakan itu perlahan. Kulit kepompong terbelah sedikit demi sedikit. Angin pagi masuk menyapa wajahnya. Sinar mentari mencium ujung antenanya.

“Selamat pagi, dunia…” bisiknya.

Retakan itu makin melebar. Kini terlihat sayap mungil yang mulai terbuka perlahan. Warnanya seperti lukisan alam: perpaduan biru safir, ungu keemasan, dan titik-titik putih yang bersinar seperti bintang kecil.

Semua makhluk di taman berdiri terpaku.

“Lihat! Dia… dia keluar!” teriak Niko penuh kegembiraan.

Lala si kelinci menutup mulutnya karena terharu, dan kumbang tua menunduk hormat.

“Lahir satu jiwa yang baru…,” ucapnya pelan.

Dengan satu tarikan nafas, Hira merobek bagian terakhir kepompongnya. Ia keluar sepenuhnya bersinar dalam cahaya pagi, tubuhnya bergetar oleh semangat dan sayapnya mengembang pelan-pelan.

Ia menatap ke bawah. Wajah-wajah penuh harapan menyambutnya. Ia tersenyum. “Terima kasih telah menunggu.”

Kemudian, Hira mengepakkan sayapnya sekali… dua kali… dan untuk pertama kalinya, ia terangkat.

Terbang rendah mengelilingi taman, menyapa bunga-bunga, menari di antara cahaya. Hira tidak hanya berubah menjadi kupu-kupu. Ia berubah menjadi cahaya harapan. Ia membawa kisah tentang kesabaran, tentang luka yang berubah menjadi kekuatan, dan tentang cinta yang tumbuh dalam diam.

Riri berteriak,

“Itu Hira kita!”

Dan Hira tertawa. Tawa lembut yang terbawa angin dan menggema ke seluruh penjuru taman.

Hari itu, semua makhluk tahu satu hal: Setiap ulat yang bersabar, setiap jiwa yang percaya, suatu hari akan memiliki sayapnya sendiri.

=================================================================

Garahan, 08 Agustus 2025 / Jumat, 13 Safar 1447 H, 20.52 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post