Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.532)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.532)

Bab 30: Langit Bukan Batasnya

Angin lembut menyapa sayap Hira saat ia terbang tinggi menembus batas bunga-bunga yang dulu hanya bisa ia pandangi dari bawah. Di bawah sana, taman bersinar cerah. Semua makhluk mengangkat kepala, melihat sosok kupu-kupu indah yang dulu hanyalah ulat kecil pemalu dan sabar.

Namun Hira tak melupakan tanah tempat ia tumbuh. Ia kembali turun, menapakkan kaki lembutnya di atas daun yang dulu menjadi tempat istirahatnya saat ia masih merayap pelan.

“Ini baru awal dari perjalanan panjangku,” bisiknya sambil menatap langit biru yang luas.

Tiba-tiba terdengar suara kecil dari balik semak-semak. “Ka... Kak Hira?”

Seekor ulat kecil dengan warna hijau terang muncul. Tubuhnya masih gemetar, dan matanya basah. Di belakangnya, beberapa ulat lain menyembul, semuanya tampak bingung dan takut.

“Apa benar kami... suatu hari bisa terbang juga?”

Hira tersenyum. Ia merunduk dan menyentuhkan antenanya ke antena ulat kecil itu.

“Dulu aku pun tidak percaya. Aku pernah menangis, pernah merasa sendiri, dan rasanya ingin menyerah. Tapi lihatlah aku sekarang.”

Ia membuka sayapnya perlahan, memperlihatkan warna-warna indah yang memantulkan cahaya pagi. Anak-anak ulat itu terpana. Mata mereka berbinar.

“Perubahan itu menakutkan,” lanjut Hira,

“Tapi bukan akhir dari segalanya. Itu hanya jembatan. Jembatan menuju sesuatu yang lebih indah.”

Ulat-ulat kecil mendekat, memeluk kaki Hira dengan penuh rasa haru.

“Lalu... bagaimana caranya agar kami kuat seperti Kakak?” tanya seekor ulat gemuk sambil mengelus-ngelus tubuhnya.

“Kalian harus bersabar,” jawab Hira lembut.

“Bersabar saat kalian lapar. Bersabar saat merasa sendiri. Bersabar ketika harus diam dan menunggu dalam gelap. Karena di sanalah kalian sedang tumbuh.”

Dari kejauhan, kumbang tua menyimak dengan senyum bangga.

“Hira kini bukan hanya kupu-kupu,” gumamnya,

“ia telah menjadi guru kehidupan.”

Hari itu, Hira mengajak ulat-ulat kecil berjalan ke tepi taman, ke tempat matahari terbit dapat dilihat tanpa penghalang.

“Lihatlah,” katanya sambil menunjuk ke cakrawala,

“Langit itu luas, tapi jangan berhenti hanya karena merasa kecil. Bahkan seekor ulat pun bisa menyentuh langit jika ia bersabar.”

Langit pun seolah mengangguk, mengirimkan cahaya hangat ke seluruh taman. Daun-daun bergoyang pelan, dan bunga-bunga mekar lebih cerah.

Hira mengepakkan sayapnya sekali lagi. Ia terbang tinggi, melingkari taman, dan akhirnya menyelinap ke balik awan. Tapi suaranya tetap terdengar…

“Ingatlah, teman-teman… langit bukan batasnya. Hati yang berani dan sabar akan membawa kalian jauh melebihi apa pun yang kalian bayangkan.”

Dan taman pun hidup dalam semangat baru.

Hari itu, bukan hanya Hira yang berubah. Tapi seluruh taman belajar arti harapan, arti menunggu, dan arti mempercayai waktu.

TAMAT Hira si Ulat Kecil yang Sabar telah menyelesaikan perjalanannya. Namun kisahnya akan terus hidup, dalam setiap ulat kecil yang percaya bahwa dirinya bisa berubah dan terbang suatu hari nanti.

=================================================================

Garahan, 09 Agustus 2025 / Sabtu Pon, 15 Safar 1447 H, 07.24 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post