Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Teman Sukses, Mengapa Hati Terasa Tidak Nyaman? (T.527)

Ketika Teman Sukses, Mengapa Hati Terasa Tidak Nyaman? (T.527)

Dalam kehidupan sosial, sangat wajar jika kita merasa dekat dan akrab dengan teman yang sudah lama kita kenal. Kita sering berbagi cerita, tertawa bersama, bahkan mungkin memiliki kondisi sosial yang mirip—misalnya, sama-sama memiliki kendaraan, pekerjaan yang tidak terlalu jauh berbeda, atau gaya hidup yang serupa. Namun, bagaimana jika suatu hari teman dekat kita membeli mobil baru, sedangkan kita masih menggunakan kendaraan lama? Tiba-tiba, muncul perasaan tak nyaman, enggan berkunjung, atau bahkan sedikit kesal tanpa alasan yang jelas. Apa sebenarnya yang terjadi dalam diri kita?

Dalam psikologi, kondisi ini bisa dikaji dari beberapa sudut pandang. Pertama dan yang paling umum adalah konsep iri hati (envy). Iri hati bukan berarti kita membenci orang lain, tetapi lebih merupakan perasaan tidak nyaman yang muncul ketika orang lain memiliki sesuatu yang kita inginkan atau ketika kita merasa ‘tertinggal’. Dalam konteks ini, keberhasilan teman—yang ditandai dengan mobil barunya—secara tidak langsung mengaktifkan rasa kurang pada diri kita sendiri.

Kedua, fenomena ini bisa dijelaskan melalui teori perbandingan sosial (Social Comparison Theory) yang dikembangkan oleh Leon Festinger. Teori ini menyebutkan bahwa manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, terutama yang dianggap setara atau selevel. Ketika seorang teman dekat yang sebelumnya “setara” dengan kita mendadak mengalami peningkatan status (misalnya, membeli mobil baru), otak kita mulai membandingkan: “Apakah saya juga sudah cukup berhasil?” atau “Bagaimana saya terlihat di matanya sekarang?” Inilah yang menyebabkan munculnya rasa minder, tidak percaya diri, atau bahkan keengganan untuk bertemu.

Ketiga, perasaan tersebut bisa menjadi bagian dari ketidaksesuaian kognitif (cognitive dissonance). Ketika nilai-nilai yang kita pegang (misalnya: menghargai persahabatan, selalu hadir untuk teman) bertabrakan dengan dorongan emosional untuk menjauh karena merasa tidak nyaman, muncullah konflik batin. Otak kita berusaha meredam ketidaknyamanan itu dengan cara menghindar, misalnya menunda silaturahmi.

Lalu, apakah perasaan ini salah? Tidak. Ini adalah reaksi psikologis yang manusiawi dan sering kali muncul secara tidak disadari. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya. Menyadari bahwa perasaan tersebut hadir adalah langkah awal yang penting. Daripada tenggelam dalam perasaan iri atau rendah diri, lebih baik mengubah perspektif kita: lihat pencapaian teman sebagai sumber inspirasi, bukan ancaman.

Latihan seperti bersyukur, refleksi diri, dan afirmasi positif sangat membantu untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Ingatkan diri bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing untuk berkembang. Jika hari ini teman kita mendapatkan rezeki lebih, bukan tidak mungkin besok giliran kita.

Terakhir, jangan biarkan perasaan sesaat merusak hubungan yang sudah lama dibangun. Datanglah berkunjung, ucapkan selamat, dan tetap jalin silaturahmi. Siapa tahu, justru dari kedatangan itu kita akan mendapatkan semangat baru dan pelajaran berharga.

================================================================

Garahan, 03 Agustus 2025 / Ahad Pahing, 08 Safar 1447 H, 22.02 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post