Lembaga Punya Wibawa, Tapi Guru Punya Nyawa (T.529)
Ungkapan “lembaga punya wibawa, tapi guru punya nyawa” mencerminkan dua sisi penting dalam dunia pendidikan yang seringkali mengalami ketegangan: antara institusi pendidikan sebagai struktur formal dan guru sebagai manusia yang menjalankan fungsi pendidikan itu sendiri. Lembaga pendidikan tentu harus memiliki wibawa agar dapat dihormati, ditaati, dan menjalankan peran sebagai pelindung serta pengarah proses belajar mengajar. Namun, guru bukanlah robot penggerak kebijakan; mereka adalah manusia yang memiliki perasaan, kehidupan pribadi, kesehatan fisik dan mental, serta batas kemampuan.
Dalam praktiknya, tidak sedikit lembaga yang terlalu menekankan wibawa kelembagaan secara kaku. Guru dituntut sempurna, harus disiplin tinggi, produktif, aktif mengikuti pelatihan, membuat laporan berlapis-lapis, bahkan bekerja di luar jam kerja tanpa mempertimbangkan hak-hak dasar mereka. Ketika guru mengalami kelelahan atau keberatan, sering kali dianggap lemah atau tidak loyal terhadap lembaga. Padahal di balik seragam dan rutinitas itu, guru adalah sosok yang menanggung banyak beban: mendidik siswa, memenuhi administrasi, menjadi teladan, bahkan terkadang mengurus hal-hal di luar tugas formal.
Lembaga pendidikan memang perlu dijaga wibawanya agar tertib, profesional, dan disegani. Namun, dalam menegakkan wibawa itu, jangan sampai mengabaikan kemanusiaan para gurunya. Apalah artinya wibawa jika nyawa–baik secara fisik maupun psikologis–guru dikorbankan? Jangan sampai karena ingin tampil megah di luar, lembaga justru kehilangan semangat dan dedikasi dari dalam. Guru yang kelelahan, tertekan, atau merasa tidak dihargai akan sulit menularkan semangat belajar kepada siswa.
Sudah saatnya lembaga dan guru berjalan beriringan. Lembaga perlu memanusiakan guru, memberi ruang untuk tumbuh dan beristirahat, serta mendukung kesejahteraan mereka. Sebaliknya, guru juga harus menjaga martabat lembaga dengan bersikap profesional, bertanggung jawab, dan terus meningkatkan kualitas diri. Pendidikan yang sehat lahir dari hubungan yang seimbang: lembaga yang punya wibawa, dan guru yang dihargai nyawanya.
Jangan biarkan wibawa lembaga menjadi tembok yang membatasi nurani guru. Karena dalam setiap ilmu yang ditanamkan, di situ ada bagian dari jiwa dan nyawa guru yang diberikan.
=================================================================
Garahan, 06 Agustus 2025 / Rabu Kliwon, 11 Safar 1447 H, 01.00 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
