Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 24  Cahaya di Tengah Malam (T.555)

Bab 24 Cahaya di Tengah Malam (T.555)

Pagi di oasis besar terasa damai. Burung-burung kecil berkicau di sekitar pohon kurma, sementara air memantulkan cahaya matahari yang baru terbit. Unta Kecil bangun lebih awal, tubuhnya terasa segar setelah perjalanan panjang dan ujian berat kemarin.

Malam itu, gurun terasa begitu sunyi. Angin hanya berhembus pelan, membawa aroma pasir yang dingin. Unta Kecil duduk di samping ibunya, menatap ke langit luas yang dipenuhi bintang.

“Bu, kenapa bintang-bintang itu berkilau? Apakah mereka juga menunggu untuk mekar seperti bunga?” tanya Unta Kecil dengan mata berbinar.

Ibu tersenyum, lalu mengangguk pelan. “Bisa jadi begitu, Nak. Bintang-bintang juga punya waktunya untuk bersinar lebih terang. Ada yang redup, ada yang terang sekali. Sama seperti kita, setiap makhluk punya waktunya masing-masing untuk bersinar.”

Unta Kecil menoleh lagi ke langit, kali ini matanya menangkap bulan yang bulat sempurna. Cahaya bulan itu menerangi pasir gurun, membuat semuanya tampak berkilau keperakan. Ia terpesona.

“Bu, aku jadi ingat bunga yang mekar kemarin. Rasanya indah sekali setelah lama menunggu. Apakah cahaya bulan ini juga hadiah dari kesabaran?” tanyanya polos.

Ibu tersenyum lebih lebar. “Ya, bulan juga sabar menunggu gilirannya. Ada saatnya ia hilang, ada saatnya ia muncul sebagai sabit kecil, lalu perlahan membesar hingga menjadi purnama. Semua itu butuh waktu, Nak. Dan lihatlah betapa indahnya saat ia penuh, memberi cahaya untuk kita.”

Unta Kecil menghela napas kagum. Ia merasa hatinya hangat meskipun malam itu dingin.

“Jadi… kalau aku sabar, aku juga bisa bersinar seperti bulan dan bintang?”

“Tentu saja, sayangku,” jawab Ibu sambil menepuk lembut kepalanya:

“Setiap kebaikan yang kamu lakukan akan membuatmu bersinar. Kesabaranmu, kebaikan hatimu, dan keberanianmu akan membuatmu bercahaya, meski di tengah kegelapan.”

Unta Kecil tersenyum lebar, lalu berbaring di atas pasir, menatap ke langit berbintang. Ia merasa seakan-akan semua bintang sedang tersenyum padanya.

Malam itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu sabar, selalu berbuat baik, dan selalu percaya bahwa waktunya untuk bersinar pasti akan datang.

===================================================================

Garahan, 01 September 2025 / Senin Legi, 08 Rabiul Awal 1447 H, 07.49 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post