Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 26 Jejak di Pasir (T.557)

Bab 26 Jejak di Pasir (T.557)

Pagi itu, setelah rombongan Piko dan Suri pergi, oasis terasa lebih sepi. Angin gurun bertiup pelan, membawa aroma pasir yang hangat. Unta Kecil berjalan ke arah gundukan tempat ia terakhir melihat mereka.

Di sana, ia menemukan barisan jejak kaki unta yang memanjang jauh ke cakrawala. Jejak-jejak itu terukir rapi di pasir, sebagian masih segar, sebagian mulai dihapus angin.

Ia menatapnya lama, lalu bertanya pada Ibu yang berdiri di belakangnya:

“Bu, kenapa aku merasa jejak-jejak ini seperti pesan?”

Ibu tersenyum:

“Karena memang begitu adanya. Setiap jejak adalah tanda perjalanan. Mereka meninggalkan jejak di pasir, seperti mereka meninggalkan kenangan di hatimu.”

Unta Kecil berjalan mengikuti jejak itu sebentar. Setiap lekukan dan bekas tapak membuatnya teringat momen-momen bersama Piko: bermain di pasir, lomba lari di sore hari, atau tertawa bersama saat hujan singkat mengguyur gurun.

Namun, setelah beberapa langkah, jejak-jejak itu mulai memudar. Angin menghapus sebagian, dan di beberapa tempat, pasir sudah menutupinya.

Unta Kecil berhenti:

“Bu… kalau jejaknya hilang, bagaimana aku bisa mengingat mereka?”

Ibu melangkah mendekat:

“Jejak di pasir memang akan hilang, Nak. Tapi jejak di hati tidak akan pernah terhapus. Cerita, tawa, dan pelajaran yang kamu dapat bersama mereka… itu akan selalu ada, meski mereka tidak lagi di sini.”

Unta Kecil menunduk, mencoba memahami kata-kata Ibu. Ia lalu mengangkat kepala dan melihat sekeliling. Gurun luas itu seakan berbisik, mengajarkan bahwa semua yang datang akan pergi, tapi setiap pertemuan punya arti yang tak ternilai.

Tiba-tiba, ia punya ide. Ia kembali ke oasis, mengambil ranting kecil, lalu menulis di pasir: Piko & Suri sahabat selamanya. Ia tersenyum melihat tulisan itu, meski tahu angin akan segera menghapusnya.

“Kalau pasir menghapus tulisan ini, bukan berarti persahabatan kita hilang,” gumamnya.

“Itu hanya berarti aku harus menjaga kenangan itu di dalam hati.”

Ibu memandang anaknya dengan bangga:

“Kamu sudah mengerti, Nak. Kadang sabar juga berarti melepaskan tanpa melupakan.”

Hari itu, Unta Kecil tidak lagi merasa sedih seperti sebelumnya. Ia berjalan pulang sambil sesekali menoleh ke arah jejak yang semakin pudar, tersenyum karena ia tahu, meskipun jejak itu hilang di mata, mereka tetap hidup di hatinya.

=================================================================

Garahan, 03 September 2025 / Rabu, 10 Rabiul Awal 1447 H, 07.37 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post