Bab 27 Pelajaran dari Pohon Kurma Tua (T.558)
Di tepi oasis yang sejuk, tumbuhlah sebuah pohon kurma yang sudah sangat tua. Batangnya kokoh meski penuh retakan, daunnya hijau rimbun, dan buahnya manis meski tidak sebanyak dulu. Pohon itu telah berdiri sejak lama, menjadi saksi bisu perjalanan banyak kafilah dan hewan-hewan padang pasir.
Suatu sore, Unta kecil berjalan bersama ibunya melewati oasis itu. Ia berhenti dan menatap pohon kurma tua dengan kagum. “Ibu, mengapa pohon kurma itu masih bisa hidup meski sudah sangat tua?” tanyanya polos.
Ibunya tersenyum, lalu berkata, “Karena pohon itu sabar dan kuat, Nak. Ia tetap berdiri meski diterpa badai, tetap berakar meski tanah sering kering, dan tetap memberi meski sudah lemah.”
Unta kecil mendekat, menyentuh batang pohon itu dengan hidungnya. Retakannya terasa kasar, tapi batang itu berdiri tegak penuh wibawa. “Apakah pohon ini tidak pernah lelah, Bu?” tanyanya lagi.
“Tentu saja pohon juga bisa lelah, tapi ia tidak pernah menyerah,” jawab ibunya bijak.

“Ia tahu bahwa hidupnya bermanfaat bagi banyak makhluk. Burung membuat sarang di daunnya, manusia memakan buahnya, bahkan bayangannya memberi tempat berteduh.”
Unta kecil merenung. Ia teringat betapa sering ia merasa lelah saat belajar berjalan jauh atau menunggu giliran minum. Sementara pohon kurma tua itu sudah melalui banyak musim, panas dan dingin, tetap sabar bertahan.
Tiba-tiba, seekor burung kecil hinggap di ranting pohon kurma. Burung itu berkicau riang, membuat suasana semakin damai. Unta kecil tersenyum. Ia mulai mengerti pelajaran dari pohon kurma tua itu: kesabaran bukan hanya menunggu, tapi juga bertahan dan tetap memberi kebaikan meski keadaan sulit.
“Ibu,” kata Unta kecil pelan,
“aku ingin seperti pohon kurma itu. Meski nanti aku lelah, aku tidak akan mudah menyerah. Aku juga ingin memberi kebaikan kepada teman-teman.”
Ibunya mengusap kepala Unta kecil penuh kasih sayang.
“Itulah pelajaran penting, Nak. Pohon kurma tua mengajarkan kita untuk sabar, kuat, dan ikhlas memberi. Jika kamu bisa meneladani itu, kamu akan menjadi unta yang bijaksana.”
Sore itu, Unta kecil melanjutkan perjalanan dengan hati ringan. Ia menoleh sekali lagi ke arah pohon kurma tua. Pohon itu berdiri diam, tapi seolah mengangguk memberinya semangat.
Sejak hari itu, setiap kali merasa lelah atau ingin menyerah, Unta kecil selalu mengingat pohon kurma tua sahabat bijak yang mengajarkannya arti kesabaran sejati.
===================================================================
Garahan, 04 September 2025 / Kamis, 11 Rabiul Awal 1447 H, 09.16 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
