Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 28 Menunggu Hujan di Gurun (T.559a)

Bab 28 Menunggu Hujan di Gurun (T.559a)

Hari-hari di gurun kembali berjalan seperti biasa. Matahari menyinari pasir dengan cahaya yang menyilaukan, angin siang membawa udara panas, dan oasis menjadi tempat paling nyaman untuk beristirahat. Namun, satu hal berbeda minggu itu langit mulai menunjukkan tanda-tanda hujan.

Awan kelabu menggantung jauh di ufuk, bergerak perlahan mendekat. Bagi penghuni gurun, hujan adalah anugerah yang jarang datang. Unta Kecil merasa hatinya berdebar-debar:

“Bu, kapan hujan itu sampai ke sini?” tanyanya dengan mata berbinar.

Ibu tersenyum:

“Hujan di gurun tidak bisa ditebak, Nak. Kadang datang cepat, kadang butuh berhari-hari. Yang penting, kita menunggu dengan sabar.”

Menunggu. Kata itu kembali menguji Unta Kecil. Ia ingat dulu kesal saat harus menunggu giliran minum. Kini, ia menunggu sesuatu yang bahkan tidak pasti waktunya. Setiap pagi ia memandang langit, berharap awan makin dekat. Setiap sore ia bertanya:

“Hari ini hujan nggak, Bu?”

Hari pertama menunggu, ia masih penuh semangat. Hari kedua, ia mulai gelisah. Hari ketiga, ia mulai mengeluh:

“Bu, mungkin hujan itu nggak jadi datang. Kenapa kita harus terus menunggu?”

Ibu menatapnya lembut:

“Sabar itu bukan hanya menunggu dengan diam, tapi menunggu dengan hati yang tenang. Kalau kamu hanya fokus pada hujan yang belum turun, kamu akan melewatkan hal-hal indah yang ada sekarang.”

Unta Kecil merenung. Esoknya, ia mencoba melakukan hal berbeda. Sambil menunggu hujan, ia bermain di sekitar oasis, membantu kawan-kawannya mengambil air, dan mengamati burung-burung kecil yang singgah di dahan pohon kurma. Awan kelabu tetap bergerak pelan, tapi hatinya tidak lagi terbebani.

Pada hari keenam, sore menjelang malam, angin berubah menjadi sejuk. Bau tanah basah samar-samar tercium. Unta Kecil menghentikan langkahnya dan menatap langit. Tetes-tetes kecil mulai jatuh di hidungnya:

“Bu! Hujan!” teriaknya gembira.

Air hujan membasahi pasir, menimbulkan aroma yang menenangkan. Oasis menjadi lebih hidup; burung-burung berkicau riang, dan dedaunan pohon kurma tampak berkilau. Unta Kecil menari-nari kecil di bawah hujan, membiarkan air membasahi bulunya.

Ibu mendekat, tersenyum sambil berkata:

“Lihat, hujan akhirnya datang. Dan karena kamu menunggunya dengan hati yang tenang, sekarang kamu bisa menikmatinya sepenuhnya.”

Unta Kecil mengangguk:

“Ternyata, menunggu sambil melakukan hal-hal baik terasa lebih cepat. Kalau aku hanya mengeluh, mungkin hujan akan terasa lama sekali datangnya.”

Hari itu, ia belajar bahwa sabar bukan sekadar menahan diri, tapi juga mengisi waktu menunggu dengan hal yang bermanfaat dan menyenangkan. Hujan di gurun mungkin hanya sebentar, tapi pelajaran itu akan ia ingat selamanya.

=================================================================

Garahan, 05 September 2025 / Jum'at, 12 Rabiul Awal 1447 H, 09.49 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post