Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 29 Pelangi di Gurun (T.560)

Bab 29 Pelangi di Gurun (T.560)

Hujan di gurun biasanya singkat, dan sore itu tetes-tetes air mulai mereda. Unta Kecil berdiri di tepi oasis, air masih menetes dari bulunya. Ia menatap langit yang perlahan cerah.

Awan-awan kelabu bergerak menjauh, dan sinar matahari sore mulai menembus celah di antara mereka. Lalu, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya muncul di ujung cakrawala garis setengah lingkaran berwarna-warni melintang di langit.

“Bu! Lihat itu! Langitnya… punya warna!” teriak Unta Kecil penuh takjub.

Ibu tersenyum

“Itu pelangi, Nak. Hadiah kecil dari hujan dan matahari yang bekerja sama.”

Unta Kecil melangkah mendekat, seakan-akan ia bisa mencapai pelangi itu. Warnanya begitu indah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

“Bu, apakah aku bisa memegangnya?” tanyanya polos.

Ibu terkekeh lembut:

“Pelangi tidak bisa disentuh. Ia ada untuk dilihat dan dinikmati, bukan untuk dimiliki. Sama seperti momen indah dalam hidup kadang hanya datang sebentar, tapi tetap membuat hati bahagia.”

Unta Kecil duduk di pasir, memandangi pelangi itu lama sekali. Ia merasa hatinya hangat, meski udara masih sejuk bekas hujan. Ia teringat saat-saat menunggu hujan beberapa hari lalu. Betapa tidak sabarnya ia waktu itu. Jika hujan datang terlalu cepat, mungkin ia tidak akan menghargainya seperti sekarang, apalagi melihat pelangi yang indah ini.

“Jadi, sabar itu bisa memberi kejutan ya, Bu?” tanyanya.

Ibu mengangguk:

“Betul, Nak. Kadang, sesuatu yang kita tunggu-tunggu tidak hanya memberi apa yang kita harapkan, tapi juga hadiah tambahan yang tidak kita sangka. Pelangi ini contohnya.”

Tak lama, beberapa hewan lain di oasis mulai keluar dari tempat berteduh. Seekor burung merpati hinggap di ranting, seekor rubah gurun duduk di kejauhan, bahkan kura-kura tua merangkak perlahan keluar dari kolam. Semua menatap pelangi dengan kagum, seolah alam sedang memberi pertunjukan istimewa untuk mereka.

Unta Kecil tersenyum lebar:

“Aku ingin mengingat pelangi ini selamanya. Walaupun nanti menghilang, aku akan menyimpannya di hatiku, seperti kenangan bersama Piko dan Suri.”

Ibu memandangnya bangga:

“Kamu semakin mengerti, Nak. Keindahan hidup sering datang sebentar, tapi cukup lama untuk membuat hati kita bersyukur.”

Perlahan, warna-warna di langit mulai memudar. Unta Kecil tidak merasa sedih. Ia tahu, meski pelangi menghilang, momen itu sudah menjadi bagian dari dirinya.

Sore itu, ia berjalan pulang bersama Ibu, meninggalkan jejak di pasir yang basah, sambil membawa rasa syukur atas setiap detik yang ia lalui dengan sabar.

=================================================================

Garahan, 06 September 2025 / Sabtu, 13 Rabiul Awal 1447 H, 09.35 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post