Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 13 Kepanikan di Sarang (T.575)

Episode 13 Kepanikan di Sarang (T.575)

Suasana pagi di sarang semut terasa tenang. Mentari begitu bersemangat karena hari itu ia berhasil menemukan biji jagung kecil yang jatuh dari ladang petani. Baginya, biji jagung itu terasa seperti harta karun besar.

Dengan penuh kegembiraan, ia membawa biji itu menuju sarang:

“Teman-teman, lihat! Aku menemukan rezeki besar hari ini!” serunya dengan bangga.

Semut-semut lain kagum, bahkan Surya ikut bersorak:

“MasyaAllah, Mentari! Itu bisa menjadi cadangan makanan yang sangat bermanfaat untuk kita semua.”

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba seekor burung pipit hinggap di dekat mereka. Dengan paruhnya yang tajam, burung itu mengambil biji jagung dari genggaman Mentari. Hanya sekejap, harta yang tadi membuatnya bahagia, hilang begitu saja.

Mentari terdiam, antenanya menunduk. Matanya berkaca-kaca:

“Mengapa burung itu mengambilnya? Padahal aku sudah berusaha keras membawanya,” keluhnya sedih.

Surya berusaha menenangkan:

“Jangan bersedih, Mentari. Mungkin Allah memang menuliskan rezeki biji jagung itu untuk burung pipit, bukan untuk kita.”

Meski mencoba menerima, hati Mentari tetap terasa berat. Ia merasa usahanya sia-sia. Hingga akhirnya, Ratu Semut mendekatinya dan berkata lembut:

“Anakku, ingatlah bahwa rezeki sudah Allah atur. Jika sesuatu hilang darimu, mungkin Allah sedang mengajarkan keikhlasan. Jangan lupa, Allah selalu mengganti dengan yang lebih baik.”

Mendengar itu, Mentari merenung. Ia teringat kisah yang pernah diceritakan Ratu Semut tentang Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang begitu ikhlas memimpin, selalu yakin bahwa semua kekuasaan hanyalah titipan dari Allah. Jika nabi saja ikhlas, mengapa ia yang kecil tidak belajar ikhlas?

Beberapa hari kemudian, Mentari berjalan bersama Surya. Mereka menemukan ladang gandum yang luas. Banyak biji gandum kecil berjatuhan di tanah, jauh lebih banyak dari biji jagung yang hilang.

“Subhanallah! Benar kata Ratu, Allah mengganti dengan yang lebih baik.”

Sejak saat itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih ikhlas. Ia belajar bahwa kehilangan bukanlah akhir, melainkan jalan menuju rezeki yang lain.

Malam itu, sebelum tidur, Mentari berdoa:

“Ya Allah, ajari aku untuk ikhlas menerima setiap ketetapan-Mu. Jangan biarkan aku terikat pada dunia, tapi ikatlah hatiku hanya kepada-Mu.”

===========================================================================================

Garahan, 20 September 2025 / Sabtu, 27 Rabiul Awal 1447 H, 08.14 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post