Episode 14 Teriakan Sang Ratu (T.576)
Beberapa hari setelah kejadian biji jagung, nama Mentari semakin terkenal di dalam sarang. Banyak semut mulai memuji keberanian dan kerja kerasnya.
“Mentari itu hebat sekali,” kata salah satu semut pekerja. “Benar, dia selalu bersemangat dan berani. Aku ingin sepertinya,” tambah semut lain.
Mendengar itu, antena Mentari sedikit terangkat. Ia merasa bangga, bahkan ada rasa ingin pamer:
“Mungkin aku memang semut paling pintar di antara mereka,” bisiknya dalam hati.
Hari itu, Ratu Semut memanggil Mentari untuk berbicara:
“Anakku, aku mendengar banyak semut memujimu. Itu adalah ujian yang tak kalah berat dari kesulitan. Apakah kau siap menghadapinya?”
Mentari bingung:
“Mengapa pujian bisa menjadi ujian, Paduka Ratu? Bukankah dipuji itu menyenangkan?”

Ratu tersenyum bijak:
“Pujian bisa membuat hati sombong jika tidak berhati-hati. Ingatlah, semua kemampuan yang kau miliki hanyalah titipan dari Allah. Jika Allah berkehendak, sekejap saja semua bisa hilang. Karena itu, jadilah rendah hati, agar pujian tidak merusak hatimu.”
Kata-kata itu membuat Mentari merenung. Namun, ujian datang lebih cepat dari yang ia kira.
Keesokan harinya, saat rombongan semut mencari makanan, Mentari mencoba memimpin dengan percaya diri:
“Ikuti aku! Aku tahu jalan terbaik!” serunya lantang.
Namun ternyata, ia salah arah. Mereka malah terjebak di dekat sarang laba-laba. Untunglah Surya cepat menyadari dan mengajak semua berbalik arah sebelum bahaya datang.

Mentari merasa malu. Ia sadar bahwa kesombongannya membuat ia lupa berhati-hati. Ia menunduk, berkata lirih:
“Maafkan aku, teman-teman. Aku terlalu percaya diri.”
Surya menepuk bahunya dengan lembut:
“Tidak apa-apa, Mentari. Kita semua bisa salah. Yang penting, kita mau belajar.”
Sepulangnya ke sarang, Mentari kembali menemui Ratu:
“Paduka, aku mengerti sekarang. Pujian bisa membuat kita lupa diri. Aku hampir membahayakan teman-temanku karena sombong.”
Ratu tersenyum:
“Alhamdulillah, kau sudah belajar. Rendah hati bukan berarti merendahkan dirimu, tetapi menyadari bahwa semua keberhasilan adalah karunia Allah.”
Sejak hari itu, setiap kali ada yang memuji, Mentari selalu menjawab:
“Alhamdulillah, semua ini karena pertolongan Allah dan kerja sama teman-temanku.”
Malam itu, ia berdoa dengan tulus:
“Ya Allah, jauhkan aku dari kesombongan. Jadikan aku semut yang rendah hati, agar aku tidak lupa bahwa semua berasal dari-Mu.”
===================================================================
Garahan, 21 September 2025 / Ahad, 28 Rabiul Awal 1447 H, 08.48 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
