Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 15 Pasukan Semut Berlindung (T.577)

Episode 15 Pasukan Semut Berlindung (T.577)

Hari-hari berlalu, musim pun berganti. Setelah hujan deras yang pernah membuat sarang hampir kebanjiran, kini tibalah musim kemarau. Matahari bersinar terik sepanjang hari, membuat tanah menjadi kering dan retak.

Mentari berjalan keluar sarang. Ia merasakan panas yang menusuk tubuh kecilnya. Daun-daun di sekitar ladang petani mulai layu, bunga-bunga pun banyak yang mengering. Sumber makanan semakin sulit ditemukan.

“Surya, kita harus tetap mencari makanan,” kata Mentari sambil menghela napas.“Benar,” jawab Surya,

“Tapi kita harus lebih sabar, karena musim ini akan berat.”

Ratu Semut mengumpulkan semua semut di ruang utama. Dengan suara lembut tapi tegas, ia berkata:

“Anak-anakku, musim kemarau adalah ujian. Kita mungkin akan kekurangan makanan, tetapi jangan panik. Ingatlah, Allah selalu memberi rezeki pada makhluk-Nya. Tugas kita adalah bersabar dan berusaha.”

Maka berangkatlah rombongan semut mencari makanan. Mentari ikut serta, meski tubuhnya terasa lelah karena panas yang terik. Mereka berjalan jauh, melewati tanah kering dan rerumputan yang hampir mati.

Hari itu, mereka hanya menemukan beberapa biji kecil yang jatuh dari tangkai gandum. Jumlahnya sedikit sekali dibandingkan biasanya.

Beberapa semut mengeluh:

“Ah, ini tidak cukup. Mengapa Allah tidak memberi kita lebih banyak?”

Mentari mendengarnya. Ia merasa sedih, lalu berkata pelan:

“Jangan begitu, teman-teman. Mungkin hari ini sedikit, tetapi Allah pasti sudah menyiapkan yang terbaik untuk kita. Kita harus sabar.”

Meski hatinya juga berat, Mentari berusaha menenangkan teman-temannya.

Malamnya, ketika semua semut beristirahat, Mentari merenung. Ia ingat kisah dalam Al-Qur’an tentang Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang menyimpan makanan pada masa subur untuk menghadapi masa paceklik:

“Ah, betapa bijaknya Allah mengajarkan kita melalui kisah nabi-Nya,” gumam Mentari.

Keesokan harinya, Mentari mengusulkan pada Surya dan teman-temannya:

“Mari kita periksa kembali gudang persediaan. Mungkin ada makanan yang dulu kita simpan.”

Benar saja, mereka menemukan cadangan yang cukup untuk bertahan beberapa hari. Semua semut bersyukur, karena ternyata usaha menyimpan makanan di musim hujan benar-benar bermanfaat.

Ratu Semut tersenyum bangga:

“Alhamdulillah. Inilah hikmah dari kesabaran dan kerja keras. Musim kemarau mungkin berat, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan kita.”

Mentari merasa hatinya tenang. Ia belajar bahwa sabar bukan hanya menunggu, tetapi terus berusaha sambil percaya pada janji Allah.

Malam itu, ia berdoa:

“Ya Allah, ajari aku untuk sabar menghadapi kekurangan, seperti halnya aku bersyukur ketika Engkau memberi kelimpahan.”

=============================================================================================

Garahan, 22 September 2025 / Senin, 29 Rabiul Awal 1447 H, 08.44 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post