Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 17 Doa Syukur Nabi Sulaiman (T.579)

Episode 17 Doa Syukur Nabi Sulaiman (T.579)

Hari itu, suasana di dalam sarang semut mendadak tegang. Dua semut pekerja terlihat bertengkar hebat. Mereka berebut sepotong kecil remah roti yang ditemukan di ladang petani.

“Itu punyaku! Aku yang menemukannya lebih dulu!” teriak semut pertama. “Tidak! Aku yang lebih dulu mengangkatnya!” balas semut kedua dengan marah.

Mentari dan Surya yang sedang lewat terkejut melihat perdebatan itu. Semut-semut lain berkumpul, tapi bukannya menenangkan, malah ada yang ikut menyalahkan satu sama lain. Suasana semakin gaduh.

Ratu Semut pun dipanggil. Dengan tenang, ia mendekati dua semut yang bertengkar:

“Anak-anakku, mengapa kalian berselisih karena sepotong kecil makanan? Bukankah Allah menyediakan rezeki yang cukup bagi setiap makhluk-Nya?”

Kedua semut itu menunduk, tetapi masih kesal. Melihat itu, Mentari memberanikan diri untuk berbicara:

“Sahabat-sahabatku, aku tahu kita lelah dan lapar. Tapi bukankah lebih baik kita berbagi? Sepotong remah roti ini mungkin kecil, tetapi jika dibagi, tetap bisa mengenyangkan bersama.”

Surya menambahkan:

“Benar. Kita bukan musuh satu sama lain. Kita adalah satu keluarga besar. Jika kita bertengkar, justru musuh dari luar yang akan mudah mengalahkan kita.”

Ratu Semut tersenyum melihat kebijaksanaan Mentari dan Surya:

“Alhamdulillah. Itulah yang ingin aku dengar. Ingatlah kisah dalam Al-Qur’an, ketika semut-semut berkata satu sama lain agar masuk ke dalam sarang demi keselamatan mereka. Mereka saling mengingatkan, bukan saling menyakiti.”

Akhirnya, kedua semut yang bertengkar saling memandang. Perlahan, mereka menurunkan antena mereka sebagai tanda meminta maaf:

“Maafkan aku,” kata semut pertama. “Aku juga minta maaf,” jawab semut kedua.

Remah roti itu pun dipotong kecil-kecil, lalu dibagikan untuk seluruh rombongan. Semua merasa kenyang dan bahagia, meski hanya mendapat bagian sedikit.

Mentari tersenyum lega. Ia sadar bahwa pertengkaran bukanlah akhir, melainkan ujian untuk belajar memaafkan dan menemukan hikmah.

Malamnya, sebelum tidur, Mentari berdoa:

“Ya Allah, ajari aku untuk tidak mudah marah dan selalu mengingatkan saudaraku dengan cara yang baik. Jadikan aku semut yang mampu membawa perdamaian, bukan perpecahan.”

===================================================================

Garahan, 24 September 2025 / Rabu, 01 Rabiul Akhir 1447 H, 21.49 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post