Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 18 Hikmah dari Semut (T.580)

Episode 18 Hikmah dari Semut (T.580)

Pagi itu, Mentari berjalan keluar sarang untuk mencari udara segar. Embun masih menetes di daun-daun, dan sinar matahari membuat tetesan itu berkilau indah. Mentari menghirup dalam-dalam, merasa segar dan bahagia.

Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seekor ulat kecil yang tubuhnya lemah, sedang berusaha merayap di atas tanah basah. Gerakannya lambat sekali, bahkan untuk mencapai satu helai rumput saja butuh waktu lama.

“Kasihan sekali ulat itu,” pikir Mentari.

“Kalau aku, dengan kaki kecilku, bisa berlari cepat, membawa makanan, bahkan berjalan jauh bersama rombongan. Aku jauh lebih beruntung.”

Rasa iba membuatnya mendekat:

“Hai ulat kecil, apakah kau butuh bantuan?” tanya Mentari.

Ulat itu tersenyum lemah:

“Terima kasih, semut kecil. Aku memang lambat. Tapi aku tetap bersyukur, karena Allah memberiku kehidupan. Mungkin sekarang aku lemah, tapi suatu hari aku akan berubah menjadi sesuatu yang indah.”

Mentari terdiam mendengar jawaban itu:

“Berubah menjadi sesuatu yang indah?” tanyanya heran.

Ulat mengangguk:

“Aku percaya pada janji Allah. Aku akan menjadi kupu-kupu yang bisa terbang bebas di langit. Itu sebabnya aku tidak mengeluh, meski sekarang aku harus merangkak perlahan.”

Kata-kata itu menusuk hati Mentari. Ia sadar bahwa sering kali dirinya mengeluh karena lelah bekerja, atau merasa makanan yang dibawa sedikit. Padahal, dibanding ulat, ia jauh lebih kuat dan gesit.

Saat kembali ke sarang, Mentari merenung. Ia lalu berkata pada teman-temannya, “Sahabatku, tadi aku bertemu dengan ulat kecil. Meski tubuhnya lemah, ia tetap bersyukur pada Allah. Aku belajar darinya bahwa kita pun harus selalu bersyukur, tidak peduli sebesar atau sekecil apa rezeki yang kita terima.”

Ratu Semut yang mendengar itu tersenyum bijak:

“Benar sekali, Mentari. Bersyukur membuat hati kita tenang, dan Allah akan menambah nikmat-Nya kepada hamba yang bersyukur.”

Malam harinya, sebelum tidur, Mentari berdoa dengan penuh kesungguhan:

“Ya Allah, terima kasih atas nikmat-Mu yang begitu banyak. Ajarilah aku untuk selalu bersyukur, agar hidupku dipenuhi kebahagiaan.”

==================================================================

Garahan, 25 September 2025 / Kamis, 02 Rabiul Akhir 1447, 08.12 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post