Episode 19 Kisah Semut dan Kerja Keras (T.581)
Pagi itu langit terlihat gelap. Awan hitam menggantung rendah, tanda hujan deras akan segera turun. Mentari dan teman-temannya tetap beraktivitas seperti biasa, mengumpulkan makanan dan menjaga sarang. Namun tak lama kemudian, hujan turun deras sekali. Tetesan air jatuh seperti rentetan anak panah, membuat tanah becek dan licin.

Air mulai mengalir deras di antara rerumputan. Sungai kecil yang biasanya tenang, tiba-tiba meluap. Bagi semut-semut kecil, aliran air itu sudah seperti banjir besar. Sarang mereka yang berada di tepi gundukan tanah mulai terancam tergenang.
“Cepat! Kita harus menyelamatkan telur-telur!” teriak Ratu Semut memberi perintah.
Mentari segera mengangkat satu telur kecil dengan hati-hati di rahangnya. Teman-temannya melakukan hal sama. Mereka berbaris panjang, berpindah dari ruang sarang yang sudah basah menuju tempat yang lebih tinggi.

Namun jalan licin membuat beberapa semut terpeleset. Ada yang hampir hanyut terbawa arus kecil. Melihat itu, semut-semut lain segera membentuk barisan tangan-tangan kecil yang saling mengait, membuat jembatan hidup agar teman-teman mereka bisa lewat dengan aman.
Mentari merasa kagum:
“Luar biasa! Kalau sendiri, aku tidak akan mampu menyelamatkan semua telur ini. Tapi dengan kerja sama, kita bisa!” katanya sambil tersenyum meski tubuhnya basah kuyup.

Setelah semua telur berhasil dipindahkan, semut-semut tak berhenti. Mereka juga saling membantu memperkuat dinding sarang dengan tanah liat yang lebih padat, agar air tidak lagi masuk. Meski hujan belum reda, semangat mereka tidak luntur.
Di sela-sela kesibukan itu, seekor semut kecil bertanya:
“Mentari, mengapa kita harus susah payah begini? Bukankah lebih mudah kalau kita menyerah saja?”
Setelah semua telur berhasil dipindahkan, semut-semut tak berhenti. Mereka juga saling membantu memperkuat dinding sarang dengan tanah liat yang lebih padat, agar air tidak lagi masuk. Meski hujan belum reda, semangat mereka tidak luntur.
Di sela-sela kesibukan itu, seekor semut kecil bertanya:
“Mentari, mengapa kita harus susah payah begini? Bukankah lebih mudah kalau kita menyerah saja?”

Akhirnya, setelah hujan mereda, sarang mereka tetap aman. Semua telur selamat, dan semut-semut bersyukur bersama-sama. Mereka berkumpul di depan sarang sambil berdoa:
“Ya Allah, terima kasih Engkau melindungi kami. Semoga kami selalu rukun dan saling membantu dalam suka maupun duka.”
Malam itu, Mentari kembali merenung. Ia semakin yakin bahwa kekuatan sejati bukanlah pada tubuh yang besar, melainkan pada kebersamaan, kerja sama, dan doa yang selalu dipanjatkan kepada Allah.
===================================================================
Garahan, 26 September 2025 / Jum'at Legi, 03 Rabiul Akhir 1447 H, 09.14 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
