Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 20 Belajar Tertib dari Semut (T.582)

Episode 20 Belajar Tertib dari Semut (T.582)

Hari itu Mentari dan teman-temannya sudah bekerja keras sejak pagi. Mereka menemukan potongan roti yang cukup besar di dekat pohon beringin. Dengan penuh semangat, mereka mengangkat remah-remah itu sedikit demi sedikit untuk dibawa ke sarang. Semua semut bergembira karena persediaan makanan akan bertambah banyak.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Seekor burung pipit hinggap di dekat tumpukan roti. Dengan cepat, burung itu mematuk dan membawa sebagian besar roti terbang ke atas pohon. Sisa yang ditinggalkan hanya remah kecil, hampir tak cukup untuk satu hari.

“Ya Allah! Makanan kita hilang!” seru salah satu semut kecil dengan wajah panik.

Beberapa semut mulai mengeluh:

“Untuk apa kita bekerja keras sejak pagi kalau akhirnya makanan itu dirampas begitu saja?” katanya kesal.

Mentari yang juga kecewa mencoba menenangkan hati. Ia menatap remah kecil yang tersisa, lalu berkata pelan:

“Sahabatku, mungkin ini ujian dari Allah. Kita sudah berusaha, tapi Allah juga ingin mengajarkan kita kesabaran.”

Seekor semut tua yang bijak menambahkan:

“Ingatlah, tidak semua yang kita inginkan bisa kita miliki. Kadang Allah mengambil sesuatu untuk menguji apakah kita bisa bersabar, lalu menggantinya dengan rezeki yang lebih baik.”

Mendengar itu, semut-semut lain mulai tenang. Mereka menyadari bahwa marah dan mengeluh tidak akan mengembalikan makanan yang hilang.

Mentari kemudian berkata:

“Ayo kita tidak menyerah. Kita masih punya tenaga, dan Allah pasti menyiapkan rezeki lain untuk kita. Mari kita mencari lagi!”

Dengan semangat baru, mereka kembali menyusuri rerumputan. Kali ini, mereka menemukan butiran nasi yang tersembunyi di dekat akar bambu. Jumlahnya memang tidak sebanyak potongan roti tadi, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hari itu.

Semut-semut bersorak gembira:

“Alhamdulillah, Allah benar-benar memberi ganti!” ujar mereka bersama-sama.

Malam itu, sebelum tidur, Mentari berdoa:

“Ya Allah, ajarilah aku untuk selalu sabar menghadapi ujian, dan yakin bahwa setiap kesabaran akan Engkau balas dengan kebaikan.”

Ratu Semut lalu mengingatkan semua penghuni sarang:

“Ingatlah wahai semut-semutku, kesabaran itu cahaya. Dengan sabar, hati kita tenang, dan Allah akan mengganti yang hilang dengan sesuatu yang lebih baik.”

==================================================================

Garahan, 27 September 2025 / Sabtu, 04 Rabiul Akhir 1447 H, 08.25 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post