Episode 22 Semut yang Suka Berbagi (T.584)
Hari itu, semut-semut pekerja sedang sibuk mengangkat butiran gandum ke dalam sarang. Mereka bekerja bergantian, saling menyemangati, dan tertawa kecil meski tubuh mereka lelah. Namun, di antara mereka ada seekor semut bernama Gagah.
Gagah memang memiliki tubuh lebih besar dan rahang lebih kuat dibanding semut lainnya. Ia bisa mengangkat makanan lebih banyak dari teman-temannya. Awalnya semua kagum padanya. Tapi lama-kelamaan, Gagah mulai sombong.
“Lihatlah aku!” katanya sambil membawa sebutir biji jagung yang besar.
“Kalau bukan karena aku, makanan kita tidak akan secepat ini terkumpul. Kalian semua terlalu lemah!”
Semut-semut lain saling pandang, merasa tidak nyaman. Mereka tahu Gagah memang kuat, tapi kata-katanya membuat hati terluka.

Mentari yang mendengar itu mendekat:
“Gagah, kekuatanmu memang luar biasa, tapi jangan meremehkan teman-temanmu. Ingat, kita semua bekerja bersama. Kalau hanya sendirian, kau tidak akan bisa mengisi gudang ini sebanyak sekarang.”
Gagah tersenyum meremehkan:
“Aku tidak butuh bantuan! Aku bisa sendiri.”
Beberapa hari kemudian, seekor belalang besar jatuh ke dekat sarang. Itu kesempatan besar untuk menambah persediaan makanan. Semut-semut segera berkerumun, mencoba mengangkat tubuh belalang itu bersama-sama.
Gagah merasa inilah saatnya membuktikan ucapannya:
“Minggirlah kalian! Aku bisa mengangkat ini sendiri,” katanya dengan sombong.
Ia mencoba menggigit tubuh belalang, lalu menarik sekuat tenaga. Namun tubuhnya gemetar, kakinya licin di tanah basah, dan akhirnya ia terjatuh. Belalang itu sama sekali tidak bergeser.

Sementara itu, semut-semut lain bekerja sama, saling membantu, mengangkat bagian kaki dan sayap belalang. Dengan kebersamaan, mereka berhasil memindahkannya sedikit demi sedikit.
Gagah terdiam melihatnya. Ia merasa malu. Mentari mendekatinya dengan senyum lembut:
“Gagah, tidak apa-apa kalau kau tidak bisa sendiri. Kekuatan bukan untuk disombongkan, tapi untuk dipakai bersama-sama. Kita semua sama di hadapan Allah. Yang membuat kita mulia adalah kerendahan hati.”

Mendengar itu, Gagah menunduk:
“Maafkan aku, teman-teman. Aku terlalu sombong. Ternyata benar, tanpa kalian, aku tidak ada apa-apanya.”
Semut-semut lain memaafkannya. Mereka kembali bekerja bersama, dan akhirnya belalang itu berhasil masuk ke gudang makanan.
Malam itu, Gagah berdoa lirih:
“Ya Allah, ampunilah kesombonganku. Ajarilah aku untuk rendah hati dan selalu ingat bahwa semua kekuatan berasal dari-Mu.”
===================================================================
Garahan, 29 September 2025 / Senin, 06 Rabiul Akhir 1447 H, 19.30 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
