Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 23 Mengkhianati kepercayaan (T.585)

Episode 23 Mengkhianati kepercayaan (T.585)

Hari itu persediaan makanan di sarang melimpah. Gudang penuh dengan biji-bijian, potongan roti, dan sisa manisan yang ditemukan semut-semut pekerja. Semua merasa senang karena cadangan mereka cukup untuk menghadapi musim hujan.

Namun, di balik kebahagiaan itu, ada seekor semut muda bernama Lira yang mulai tergoda. Ia melihat sebutir gula kecil berkilau di pojok gudang.

“Kalau aku ambil satu saja untuk kusimpan sendiri, tak akan ada yang tahu,” pikirnya.

Dengan hati-hati, Lira mengambil gula itu dan menyembunyikannya di balik batu kecil dekat sarang. Ia merasa bangga memiliki simpanan pribadi.

“Kalau nanti aku lapar, aku bisa memakannya sendiri tanpa harus menunggu pembagian,” gumamnya.

Keesokan harinya, saat pembagian makanan dilakukan, Ratu Semut memanggil semua semut untuk memastikan jumlah persediaan. Mereka menghitung dengan teliti, tapi ternyata ada yang kurang.

“Ada yang hilang satu butir gula,” kata salah satu penjaga gudang heran.

Suasana jadi hening. Semua saling menatap. Tidak ada yang mau bicara. Mentari yang ikut berdiri di sana merasa ada yang tidak beres.

Ia lalu berkata:

“Sahabat-sahabatku, mungkin ini hanya salah hitung. Tapi jika ada di antara kita yang mengambil tanpa izin, ingatlah, itu berarti kita mengkhianati kepercayaan.”

Lira yang mendengar itu merasa dadanya berdebar keras. Kata-kata Mentari membuatnya merasa bersalah. Malamnya, ia tidak bisa tidur. Gula kecil yang disimpannya terasa sangat berat di hati.

Keesokan paginya, Lira memberanikan diri. Ia membawa gula itu ke hadapan Ratu Semut. Dengan suara bergetar, ia berkata:

“Ampuni aku, Ratu. Akulah yang mengambil gula itu. Aku salah karena tidak jujur.”

Semua semut terkejut, tapi Ratu Semut justru tersenyum lembut:

“Lira, kau memang salah karena mengambil tanpa izin. Namun, keberanianmu untuk jujur lebih berharga dari seribu gula. Ingatlah, kejujuran adalah perhiasan hati yang membuat kita dipercaya.”

Semut-semut lain pun memeluk Lira, menunjukkan bahwa mereka memaafkannya. Mentari berbisik:

“Kita semua bisa salah, tapi yang terpenting adalah berani mengakui dan memperbaikinya.”

Malam itu, Lira berdoa lirih:

“Ya Allah, terima kasih Engkau memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Jadikan aku semut yang jujur, agar hidupku penuh dengan keberkahan.”

===================================================================

Garahan, 30 September 2025 / Selasa, 07 Rabiul Akhir 1447 H, 07.22 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post