Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 3 Pesan untuk Koloni (T.564)

Episode 3 Pesan untuk Koloni (T.564)

Hari itu, hutan kembali ramai oleh suara burung, tiupan angin, dan langkah kecil ribuan semut. Setelah bekerja keras dua hari berturut-turut, para semut berkumpul di aula besar di dalam sarang. Aula itu berbentuk bulat dengan dinding tanah yang kokoh, dibuat dari kerja sama tak kenal lelah ribuan semut pekerja.

Di tengah aula, ratu semut sudah berdiri dengan penuh wibawa. Wajahnya memancarkan ketenangan, dan antenanya bergerak perlahan, tanda ia siap berbicara. Semua semut berhenti bicara. Suasana hening. Yang terdengar hanya gemericik air dari sungai kecil yang mengalir di luar sarang.

“Wahai anak-anakku,” ucap sang ratu dengan suara lembut,

“kalian semua telah bekerja dengan baik. Persediaan makanan kita semakin banyak, dan sarang kita semakin kokoh. Namun, aku ingin mengingatkan sesuatu yang sangat penting bagi kita semua.”

Semua semut menajamkan pendengaran mereka. Antena mereka bergerak, tanda mereka memperhatikan sungguh-sungguh.

“Ketahuilah,” lanjut sang ratu,

“Dunia luar penuh dengan keajaiban sekaligus bahaya. Ada makhluk yang lebih besar dari kita, yang bisa saja menginjak atau merusak sarang kita. Tapi ingatlah, Allah selalu melindungi hamba-Nya yang taat, disiplin, dan selalu mengingat-Nya. Oleh karena itu, aku ingin kalian semua selalu waspada, taat aturan, dan tidak mudah panik jika bahaya datang.”

Nala, semut kecil yang selalu penasaran, mengangkat tangannya. Dengan suara sopan, ia bertanya:

“Wahai ratu, apa yang harus kami lakukan jika bahaya tiba-tiba datang? Kadang-kadang aku takut, karena tubuh kita sangat kecil.”

Ratu tersenyum penuh kasih:

“Pertanyaan yang baik, Nala. Ingatlah, tubuh kita memang kecil, tetapi Allah memberi kita akal dan kekuatan untuk bekerja sama. Jika ada bahaya, dengarkan perintah pemimpin kalian. Jangan bertindak sendiri. Masuklah ke dalam sarang, lindungi satu sama lain, dan bacalah doa dalam hati: Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, dengan nama Allah aku bertawakal kepada-Nya.”

Semua semut mengangguk pelan. Mereka merasa tenang mendengar nasihat itu. Ratu melanjutkan:

“Jangan lupa pula, jangan pernah sombong hanya karena kita berhasil membawa banyak makanan. Semua itu bukan semata-mata karena kekuatan kita, melainkan karena Allah memberi izin. Tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada-Nya.”

Suasana aula semakin hangat. Ada semut-semut kecil yang tampak bersemangat mendengarkan, ada pula yang matanya berbinar karena merasa bangga punya pemimpin sebijak ratu mereka.

Setelah memberi pesan, ratu semut meminta seluruh semut untuk beristirahat sejenak:

“Besok kita akan memulai perjalanan baru yang lebih jauh. Kita akan mencari makanan di ladang yang lebih besar. Karena itu, malam ini tidurlah lebih awal, agar tubuh kalian kuat dan siap bekerja.”

Malam pun tiba. Sarang semut menjadi hening, hanya terdengar suara lembut angin di luar. Namun, Nala tidak bisa langsung tidur. Ia merenung, mengingat kata-kata ratu tadi. Dalam hatinya, ia berdoa:

“Ya Allah, jadikan aku semut yang berani, tidak mudah takut, dan selalu taat pada pemimpin. Lindungi kami dari bahaya, dan ajari aku untuk selalu bersyukur.”

Keesokan paginya, seluruh semut bangun dengan semangat baru. Mereka berbaris lebih panjang dari biasanya, siap menuju ladang besar yang sudah ditunjuk oleh para pengintai semut sehari sebelumnya. Nala berada di barisan tengah bersama Binu.

“Binu, aku merasa berbeda setelah mendengar pesan ratu semalam,” kata Nala.“Apa yang berbeda?” tanya Binu sambil tersenyum.“Aku merasa lebih berani. Dulu aku sering takut karena tubuhku kecil. Tapi sekarang aku tahu, Allah selalu melindungi kita. Kita hanya perlu disiplin dan bekerja sama.”

Binu mengangguk:

“Benar sekali, Nala. Itu sebabnya ratu kita selalu mengingatkan kita untuk tidak panik. Jika kita taat, insyaAllah semua akan selamat.”

Mereka pun berjalan dengan semangat. Sinar matahari pagi membuat tubuh kecil mereka berkilauan. Langkah-langkah kecil itu, meskipun sederhana, sesungguhnya adalah bentuk ibadah. Karena setiap butir makanan yang mereka kumpulkan, mereka niatkan untuk kebaikan seluruh koloni.

Di kejauhan, ladang besar sudah terlihat. Daun-daun hijau, bunga warna-warni, dan butir-butir biji yang berjatuhan dari tanaman. Semua semut bersorak dengan antena mereka. Mereka tahu hari itu akan menjadi hari penuh berkah.

Namun, jauh di atas pepohonan, seekor burung gagak memperhatikan barisan semut itu dengan tatapan tajam. Tanpa mereka sadari, petualangan baru sekaligus ujian besar sedang menanti.

=============================================================================================Garahan, 10 September 2025 / Rabu, 17 Rabiul Awal 1447 H, 07.44 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post