Episode 4 Semut Kecil yang Penasaran (T.565)
Pagi itu, udara terasa segar. Embun masih menempel di ujung daun ketika koloni semut memasuki ladang besar. Nala, semut kecil yang selalu penuh rasa ingin tahu, berjalan dengan mata berbinar. Ia melihat banyak hal baru: bunga berwarna ungu yang harum, batang padi yang tinggi, dan butiran biji yang berjatuhan.
“Nala, jangan melamun. Ayo cepat bekerja!” kata Binu sambil tersenyum.“Aku tidak melamun, Binu. Aku hanya kagum. Dunia ini ternyata luas sekali,” jawab Nala sambil terus melangkah.

Nala sambil terus melangkah.
Semut-semut pekerja segera berpencar, mencari makanan. Ada yang mengangkat butiran nasi sisa di tanah, ada yang menggigit daun muda, ada pula yang membawa serbuk bunga. Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Namun, Nala punya kebiasaan berbeda. Ia sering memperhatikan sekeliling dengan penuh rasa penasaran. Setiap hal baru membuatnya ingin tahu lebih banyak.
“Kenapa bunga ini bisa harum ya?” gumamnya sambil mendekati bunga ungu. Ia menyentuh serbuk sari dengan antenanya:
“Apakah baunya bisa menarik serangga lain?”

Binu yang melihat tingkah Nala hanya bisa menggeleng:
“Hati-hati, Nala. Jangan terlalu jauh. Kita harus fokus membawa makanan.”“Iya, iya,” jawab Nala sambil tetap mengamati bunga itu.
Di sisi lain ladang, para semut bekerja dengan tertib. Mereka membentuk jalur panjang, seperti sungai kecil yang tak pernah berhenti mengalir. Jalur itu adalah bukti kerja sama yang luar biasa.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara berat kraaaak… kraaaak…. Seekor belalang besar hinggap di batang padi. Ukurannya jauh lebih besar dibanding para semut. Semua semut berhenti sejenak, menatap makhluk itu dengan waspada.
“Wah, itu belalang!” teriak salah satu semut prajurit.“Tenang! Jangan panik!” perintah pemimpin regu.

Belalang itu meloncat ke arah bunga ungu, tepat di dekat tempat Nala berdiri. Tubuhnya besar, kakinya panjang, dan matanya berkilat. Nala terperangah, tubuhnya bergetar. Ia ingin lari, tapi kakinya seakan menempel di tanah.
Binu yang melihat sahabatnya dalam bahaya segera berteriak:
“Nala! Awas! Lari ke arah barisan!”
Nala berusaha bergerak, namun belalang itu sudah mendekat. Dengan refleks, ia menunduk dan bersembunyi di balik kelopak bunga. Jantung kecilnya berdetak kencang.
Belalang itu tidak berniat menyerang semut. Ia hanya mencari makanan berupa daun segar. Namun, bagi semut-semut kecil, kehadirannya sangat menakutkan. Tubuh besar belalang bisa saja menghancurkan mereka tanpa sengaja.
Semut prajurit segera membuat barisan, mengibaskan antena tanda peringatan. Mereka tidak menyerang, hanya menjaga agar semut-semut pekerja tetap aman. Pemimpin regu berteriak:
“Ingat pesan ratu! Jangan panik! Tetap bersama-sama!”
Nala, meskipun ketakutan, teringat pada pesan ratu semalam:
“Jika ada bahaya, dengarkan pemimpin, jangan bertindak sendiri, dan ucapkan doa.” Dengan suara lirih ia berbisik:
“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah…”
Perlahan, rasa takutnya mereda. Ia keluar dari balik bunga dan segera berlari menuju barisan semut. Binu menyambutnya dengan lega:
“Alhamdulillah kamu selamat, Nala! Aku kira kamu akan terinjak belalang itu.”
Nala terengah-engah:
“Aku… aku ingat pesan ratu. Aku baca doa, lalu aku merasa lebih berani. Ternyata benar, kalau kita tawakal pada Allah, hati jadi lebih tenang.”
Binu menepuk bahunya:
“Bagus sekali, Nala. Kamu memang semut kecil yang penasaran, tapi hari ini kamu belajar hal penting: rasa ingin tahu itu baik, asal tidak membuat kita ceroboh.”
Sementara itu, belalang akhirnya meloncat pergi setelah puas mengunyah beberapa daun. Barisan semut kembali tenang. Mereka bekerja lagi dengan semangat baru.
Di tengah perjalanan pulang, Nala merenung. Ia menyadari bahwa rasa penasarannya bisa menjadi kekuatan, tapi juga bisa membahayakan jika tidak dikendalikan. Dalam hatinya, ia berdoa:
“Ya Allah, ajari aku untuk menggunakan rasa ingin tahuku dengan bijak. Jangan biarkan aku ceroboh, dan jadikan aku semut kecil yang bermanfaat untuk koloni.”
Malamnya, ketika kembali ke sarang, Nala menceritakan pengalamannya kepada ratu. Dengan penuh kasih, ratu berkata:
“Nala, aku senang kau berani. Rasa ingin tahu adalah karunia. Dengan itu, kita bisa belajar banyak hal. Tapi ingat, jangan sampai rasa itu membuatmu lupa akan kewaspadaan. Gunakanlah karunia itu dengan penuh tanggung jawab.”
Nala mengangguk mantap:
“Baik, ratu. Aku akan belajar untuk selalu berhati-hati.”
Ratu tersenyum:
“Itulah yang membuatmu istimewa, Nala. Kau semut kecil yang penasaran, tapi juga mau belajar.”
Semua semut bertepuk antena tanda setuju. Malam itu, koloni tidur dengan tenang, penuh syukur, dan siap menghadapi hari esok.
===========================================================================================
Garahan, 11 September 2025 / Kamis, 18 Rabiul Awal 1447 H, 08.24 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
