Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 7 Banjir Kecil di Ladang (T.568)

Episode 7 Banjir Kecil di Ladang (T.568)

Keesokan harinya setelah hujan pertama, ladang tampak berbeda. Tanah yang kemarin kering kini berubah menjadi becek. Di beberapa tempat, air tergenang membentuk kolam kecil. Bagi manusia, genangan itu hanya seukuran tapak kaki. Namun, bagi semut-semut kecil, itu bagaikan lautan luas yang sulit diseberangi.

Nala berjalan bersama Binu di tepi ladang. Ia memandang genangan itu dengan mata berbinar:

“Lihat, Binu! Seperti danau kecil! Airnya berkilau terkena cahaya matahari. Indah sekali!”

Binu menatapnya dengan wajah serius:

“Indah memang, Nala. Tapi ingat, di balik keindahan ada bahaya. Air itu bisa menenggelamkan kita dalam sekejap.”

Semut-semut pekerja harus mencari jalan baru untuk membawa makanan, karena jalur lama mereka terputus oleh genangan. Para prajurit segera mengibaskan antena, memberi sinyal: ‘Cari jalan memutar!’

Namun, ada sekelompok semut muda yang penasaran. Mereka mendekat ke tepi genangan, mencoba melihat lebih dekat. Salah satunya berkata:

“Airnya jernih sekali. Bagaimana kalau kita menyeberang? Mungkin ada makanan di seberang sana.”

Nala yang mendengar itu segera memperingatkan:

“Jangan! Air itu dalam untuk tubuh kita. Kalian bisa tenggelam.”Tapi semut-semut muda itu tidak menggubris. Mereka mengambil ranting kecil dan mencoba menggunakannya sebagai jembatan.

Awalnya ranting itu tampak kuat, tapi begitu beberapa semut naik bersama-sama, plung! rantingnya terbalik. Dua ekor semut tercebur ke dalam air. Mereka berusaha berenang, tapi tubuh kecil mereka terus terbawa arus kecil yang terbentuk dari tetesan hujan yang masih mengalir.

Nala dan Binu segera berlari. Dengan sigap, mereka memanggil semut prajurit. “Cepat! Ada yang jatuh ke air!”

Prajurit segera bergerak. Mereka menggunakan ranting lebih besar untuk menjangkau kedua semut yang hampir tenggelam. Dengan kerja sama, mereka akhirnya berhasil menarik semut-semut itu ke tepi. Nafas mereka terengah-engah, tubuh basah kuyup.

Ratu yang mengetahui kejadian itu segera memanggil semua semut. Dengan suara lembut tapi tegas, ia berkata,“Anak-anakku, hari ini kalian melihat akibat dari kecerobohan. Air yang tampak indah bisa menjadi bencana bila kita tidak berhati-hati. Ingatlah, Allah menciptakan air sebagai rahmat, tapi kita harus tahu bagaimana menghadapinya. Jangan sekali-kali bermain-main dengan bahaya.”

Semut-semut muda menunduk malu. Mereka sadar, rasa ingin tahu mereka hampir berujung pada bencana. Nala yang melihatnya tersenyum kecil, lalu mendekat:

“Aku dulu juga begitu. Aku suka penasaran pada hal baru. Tapi aku belajar, tidak semua yang indah aman untuk kita. Kadang kita harus mendengarkan nasihat dan lebih berhati-hati.”

Semut-semut muda itu mengangguk, lalu meminta maaf kepada ratu dan teman-temannya. Ratu tersenyum:

“Yang penting kalian mau belajar. Jangan ulangi lagi.”

Malam itu, ketika koloni semut kembali ke sarang, Nala merenung. Ia melihat genangan air yang berkilau diterpa cahaya bulan. Ia berbisik dalam hati:

“Ya Allah, terima kasih Kau beri aku pelajaran hari ini. Ajari aku untuk melihat bukan hanya indahnya dunia, tapi juga bahaya yang ada di dalamnya. Semoga aku bisa bijak dalam setiap rasa penasaranku.”

=============================================================================================

Garahan, 14 September 2025 / Ahad, 21 Rabiul Awal 1447 H, 08.49 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post