Episode 9 Jejak Misterius di Tanah Basah? (T.570)
Pagi itu, langit begitu cerah. Mentari kecil yang sudah tumbuh semakin kuat kini tampak bersemangat. Ia ingin menjelajah lebih jauh bersama teman-temannya. Ratu Semut telah memberikan izin khusus: kali ini mereka akan pergi ke padang bunga yang letaknya lebih jauh dari sarang. Tugas mereka adalah mencari serbuk sari yang bisa dijadikan sumber makanan cadangan.
Mentari, ditemani oleh Surya dan beberapa semut pekerja lainnya, berbaris rapi menuju padang bunga. Perjalanan itu tidak mudah. Mereka harus melewati akar-akar pohon besar, rerumputan tinggi, hingga bebatuan yang tampak seperti gunung bagi tubuh kecil mereka. Namun, semangat tak pernah padam.
Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya sampai di sebuah padang luas. Warna-warni bunga bermekaran indah, merah, kuning, ungu, dan biru. Semuanya terlihat begitu mempesona:
“MasyaAllah, indah sekali ciptaan Allah,” ucap Mentari dengan mata berbinar.

Namun, ada satu hal yang menarik perhatian mereka. Di balik bunga-bunga yang indah itu, lebah juga sibuk beterbangan. Mereka mencari nektar untuk dibawa pulang ke sarang lebah. Awalnya, para semut merasa khawatir. Bagaimana jika lebah-lebah itu menganggap mereka sebagai pengganggu?
Surya menenangkan:
“Kita datang bukan untuk merebut. Kita datang hanya mengambil yang Allah sediakan untuk kita di tanah, bukan yang menjadi hak lebah.” Kata-kata itu membuat rombongan semut merasa lebih tenang.
Dengan hati-hati, mereka mulai memungut serbuk sari yang jatuh di tanah atau menempel di batang bunga. Mentari bekerja dengan penuh semangat, mengumpulkan butiran kecil yang tampak berkilau di bawah sinar matahari.
Tiba-tiba seekor lebah mendekat. Tubuhnya besar dibandingkan tubuh kecil semut, sayapnya bergetar cepat. Mentari sempat terkejut, tapi ia ingat untuk tetap tenang.

Lebah itu tidak marah, melainkan justru berkata dengan suara lembut, “Assalamualaikum, semut kecil. Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Waalaikumussalam, lebah baik,” jawab Mentari sopan.
“Kami hanya mencari rezeki dari Allah tanpa mengambil hak kalian. Kami hanya mengambil sisa serbuk sari yang berjatuhan.”
Lebah itu tersenyum:
“Alhamdulillah, betapa indahnya ketika makhluk Allah saling berbagi tanpa berebut. Allah menyediakan cukup untuk semua makhluk-Nya.”
Percakapan itu membuat Mentari semakin yakin bahwa kehidupan harus dijalani dengan saling menghargai. Ia belajar bahwa rezeki sudah ditetapkan oleh Allah, tak perlu iri atau merebut milik orang lain.
Setelah mendapatkan cukup serbuk sari, rombongan semut memutuskan untuk kembali. Mereka berjalan sambil membawa butiran-butiran kecil yang akan menjadi sumber makanan berharga.
Dalam perjalanan pulang, Mentari merenung:
“Ternyata dunia ini penuh warna dan pelajaran. Dari lebah, kita belajar arti berbagi dan bersyukur.”

Sesampainya di sarang, mereka disambut dengan gembira. Ratu Semut mendengarkan laporan Mentari dengan penuh perhatian. Sang Ratu tersenyum, “Anakku, kau sudah belajar hal yang sangat penting hari ini. Jangan pernah iri pada rezeki makhluk lain. Yakinlah, Allah telah membagi rezeki sesuai dengan kebutuhan kita.”
Malam itu, sebelum tidur, Mentari berdoa:
“Ya Allah, jadikan aku semut yang selalu bersyukur atas rezeki-Mu, dan jauhkan aku dari sifat iri hati.”
==================================================================
Garahan, 16 September 2025 / Selasa, 23 Rabiul Awal 1447 H, 07.36 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
