Kesenjangan Numerasi dan Bayangan Tes Akademik (T.563a)
Numerasi bukan hanya sekadar urusan hitung-menghitung. Ia adalah keterampilan hidup—bekal anak-anak kita untuk memahami data, mengelola keuangan, hingga membuat keputusan cerdas. Namun, kenyataannya, masih banyak siswa SMP di Indonesia yang kesulitan menghadapi operasi hitung dasar. Pertanyaannya, apakah kita rela generasi penerus bangsa tertinggal hanya karena tidak terbiasa dengan logika angka?
Kesenjangan yang MengangaPerbedaan kualitas pendidikan antara kota dan desa membuat kemampuan numerasi berkembang tidak seimbang. Siswa di perkotaan relatif mudah mengakses aplikasi belajar, sementara di daerah terpencil banyak yang masih bergantung pada buku seadanya.
Lebih dari itu, cara mengajar matematika di sekolah sering terjebak pada hafalan rumus dan latihan mekanis. Nilai menjadi tujuan, bukan pemahaman. Tak heran jika matematika dipandang menakutkan, alih-alih menyenangkan. Bukankah seharusnya numerasi bisa diajarkan lewat hal-hal sederhana—misalnya menghitung uang belanja atau memperkirakan jarak perjalanan?
Program Literasi-Numerasi: Harapan yang Butuh TindakanPemerintah telah meluncurkan program literasi dan numerasi nasional. Inisiatif ini patut diapresiasi, tetapi langkah besar itu tak boleh berhenti sebagai slogan. Guru adalah garda terdepan, sehingga mereka perlu dukungan nyata—pelatihan, sarana belajar, serta ruang berkreasi agar angka-angka hidup di depan anak didik.
Bayangkan jika pelajaran berhitung dikaitkan dengan permainan, cerita, atau kegiatan sehari-hari. Anak-anak akan lebih mudah menangkap maknanya. Numerasi tidak lagi menakutkan, melainkan sahabat dalam kehidupan mereka.
Tes Kemampuan Akademik (TKA): Cermin, Bukan MomokNovember 2025 nanti, Tes Kemampuan Akademik (TKA) akan digelar. Berbeda dengan Ujian Nasional, TKA bersifat sukarela, tidak menentukan kelulusan, dan tidak menghalangi siswa melanjutkan pendidikan.
Namun, keberadaannya tetap penting. TKA adalah cermin yang menunjukkan sejauh mana kualitas pembelajaran kita. Hasil tes dapat memetakan daerah mana yang tertinggal dan aspek apa yang harus diperbaiki. Dengan data tersebut, kebijakan bisa lebih tepat sasaran.
Sayangnya, masih ada keraguan. Sebagian orang tua takut tes ini menambah beban anak, sementara sebagian guru khawatir hasilnya dianggap cerminan kegagalan mereka. Padahal, TKA bukan palu hakim, melainkan alarm pengingat agar kita segera berbenah.
Mari Bergerak BersamaIsu numerasi bukan tanggung jawab pemerintah semata. Guru harus kreatif, sekolah harus mendukung suasana belajar yang menyenangkan, dan orang tua perlu aktif mendampingi anak. Masyarakat pun berperan menyediakan ruang ramah untuk melatih logika anak.
Anak-anak tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Mereka butuh dorongan, bukan cibiran. Mereka butuh kesempatan untuk salah, lalu mencoba lagi hingga berhasil.
PenutupKesenjangan numerasi adalah alarm bagi dunia pendidikan kita. Program literasi-numerasi dan TKA bisa menjadi momentum penting bila kita memaknainya sebagai peluang, bukan beban.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita ikut serta membekali anak-anak dengan keterampilan berhitung yang mereka butuhkan? Sebab, masa depan bangsa akan ditentukan oleh sejauh mana kita serius membangun generasi yang bukan hanya mampu membaca, tetapi juga percaya diri dalam berhitung.
=================================================================
Garahan, 09 September 2025 / Selasa, 16 Rabiul Awal 1447 H, 18.58 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
