Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 13 Lalat yang Lemah namun Menggugah (T.604)

Episode 13 Lalat yang Lemah namun Menggugah (T.604)

Serangga satu ini memang menjengkelkan apabila menghinggapi makanan yang tersaji di meja atau di tempat-tempat tertentu. Hinggap di tempat kotor, terbang ke makanan yang tidak ada penutupnya. Namun, Lalat yang kita jumpai membawa hikmah betapa kecilnya ilmu pengetahuan yang kita miliki bila dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh Allah SWT.

          Pada suatu siang yang panas di sebuah pasar Arab kuno, orang-orang sibuk mempersembahkan sesajen untuk berhala-berhala mereka. Mereka meletakkan makanan, bunga, dan minyak harum di hadapan patung-patung besar itu. Mereka percaya bahwa berhala bisa memberikan keberkahan. Namun, Allah menurunkan sebuah ayat yang mengejutkan mereka. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 73 yang berbunyi:

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”

Allah berfirman bahwa orang-orang yang menyembah selain-Nya adalah lemah, karena sesungguhnya mereka tidak akan sanggup menciptakan seekor lalat, meskipun mereka bersatu untuk melakukannya. Bahkan jika lalat itu mengambil sesuatu dari mereka, mereka tidak akan mampu merebutnya kembali.

Ayat ini menjadi sindiran halus, tetapi juga peringatan keras. Lalat, hewan yang sering dianggap menjijikkan, ternyata dipilih Allah sebagai contoh untuk menunjukkan kelemahan manusia. Dari sinilah lahir pelajaran besar: sehebat apa pun manusia, tetap tidak berdaya menghadapi makhluk kecil ciptaan Allah.

Di sebuah pojok pasar, seekor lalat kecil bernama Lami hinggap di atas makanan. Ia dengan mudah menghisap cairan manis yang diletakkan untuk berhala. Orang-orang yang melihat mencoba mengusirnya, tetapi Lami terbang cepat, lalu kembali lagi, hinggap di tempat yang sama. Begitu seterusnya, hingga orang-orang mulai kesal:

“Kenapa kita tidak bisa mengusir makhluk sekecil ini?” kata salah satu dari mereka. Mereka menepuk-nepuk udara, menggoyang-goyangkan tangan, namun lalat itu tetap saja kembali. Mereka akhirnya menyerah, membiarkan Lami dan kawan-kawannya mengambil apa pun yang mereka mau.

Melihat itu, Nabi Ibrahim yang hidup jauh sebelum turunnya ayat ini pernah mengingatkan kaumnya tentang kesia-siaan menyembah berhala. Namun, kaum musyrik tetap keras hati. Ketika ayat tentang lalat diturunkan pada masa Nabi Muhammad ﷺ, orang-orang musyrik pun terdiam. Mereka merasa malu. Bagaimana mungkin mereka menyembah sesuatu yang tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tidak bisa melawan seekor lalat? Lalat hanya mengambil sedikit cairan, dan barang itu tidak mungkin kembali dalam bentuk aslinya. Inilah tanda betapa lemahnya berhala dan orang-orang yang menyembahnya.

          Lami sendiri tidak pernah menyangka dirinya menjadi bagian dari pelajaran besar dalam Al-Qur’an. Ia hanya hidup sebagaimana Allah menakdirkan: terbang, mencari makan, dan berkembang biak. Namun Allah menjadikannya simbol kelemahan manusia. Seekor lalat kecil ternyata bisa menjadi pengingat agar manusia tidak sombong. Bukankah manusia sering merasa dirinya hebat, padahal tubuhnya sendiri bisa sakit hanya karena bakteri yang lebih kecil daripada lalat?

          Di sisi lain, kisah lalat dalam ayat ini juga menunjukkan kasih sayang Allah. Allah ingin manusia berpikir, merenungi ciptaan-Nya, dan kembali kepada-Nya. Allah tidak meminta sesuatu yang sulit. Ia hanya mengingatkan melalui makhluk kecil yang sering diremehkan. Jika manusia mau merenung, maka keimanan mereka akan semakin kuat. Tetapi jika hati mereka keras, mereka akan tetap sombong meski bukti sudah jelas di depan mata.

Seorang anak kecil bernama Hasan yang mendengar penjelasan ayat ini dari gurunya pun tertegun. Ia menatap seekor lalat yang hinggap di mejanya, lalu berkata dalam hati:

“Selama ini aku selalu mengusir lalat dengan marah. Aku tidak tahu bahwa Allah menyebutnya dalam Al-Qur’an.” Sejak saat itu, Hasan tidak lagi meremehkan ciptaan Allah, sekecil apa pun. Ia belajar menghargai semua makhluk, karena masing-masing punya hikmah yang bisa dipelajari.

Pesan Moral: Kisah lalat dalam QS. Al-Hajj: 73 mengajarkan kita untuk tidak meremehkan ciptaan Allah. Lalat kecil saja bisa menjadi bukti kelemahan manusia dan berhala yang mereka sembah. Manusia seharusnya tidak sombong, sebab kekuatan, kecerdasan, dan harta hanyalah titipan Allah. Dari seekor lalat, kita belajar bahwa makhluk kecil pun memiliki peran besar dalam mengingatkan manusia untuk selalu bersyukur, rendah hati, dan hanya menyembah Allah semata.

==================================================================

Garahan, 19 Oktober 2025 / Ahad, 26 Rabiul Akhir 1447 H, 07.12 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post