Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 18 Serigala dan Nabi Yusuf (T.609)

Episode 18 Serigala dan Nabi Yusuf (T.609)

Di sebuah desa kecil di tanah Kanaan, hiduplah seorang nabi yang bijaksana bernama Nabi Ya‘qub. Beliau dikenal sebagai ayah yang penyayang dan selalu mengajarkan anak-anaknya untuk berbuat baik serta taat kepada Allah. Dari semua anaknya, Nabi Ya‘qub memiliki kasih sayang yang sangat besar kepada Yusuf, putranya yang masih muda, cerdas, dan berhati lembut. Yusuf memiliki wajah yang tampan dan tutur kata yang sopan.

Namun, perhatian besar Nabi Ya‘qub terhadap Yusuf membuat hati kakak-kakaknya dipenuhi rasa iri. Mereka sering berbisik satu sama lain:

“Mengapa Ayah selalu memihak Yusuf? Bukankah kita juga anak-anaknya?” Rasa iri itu tumbuh semakin besar hingga berubah menjadi niat jahat.

Suatu hari, mereka datang menemui ayahnya. Dengan suara yang dibuat-buat lembut, mereka berkata,

“Ayah, izinkan kami mengajak Yusuf bermain bersama kami di padang rumput. Kami ingin bersenang-senang bersamanya dan akan menjaganya dengan baik.”

Nabi Ya‘qub menatap mereka dengan tatapan penuh kasih, namun hatinya ragu. Dengan lembut beliau berkata,

“Aku khawatir jika kalian lalai, Yusuf akan dimakan serigala.”

Mendengar itu, para kakak Yusuf berpura-pura tertawa:

“Ayah, bagaimana mungkin? Kami ini banyak dan kuat. Tidak mungkin serigala berani mendekati kami.”

Akhirnya, meski hatinya cemas, Nabi Ya‘qub mengizinkan Yusuf ikut. Dengan penuh semangat, Yusuf berangkat bersama saudara-saudaranya menuju padang rumput yang hijau. Ia tidak tahu bahwa mereka sudah merencanakan sesuatu yang sangat buruk.

Sesampainya di padang rumput, mereka tidak benar-benar bermain. Yusuf justru dibawa ke tempat yang jauh dari keramaian:

“Saudara-saudaraku, mengapa kita tidak bermain di sini saja?” tanya Yusuf polos. Tapi tidak ada jawaban. Tiba-tiba, dua orang kakaknya memegang Yusuf, dan dengan hati penuh iri, mereka melemparkan Yusuf ke dalam sebuah sumur yang dalam dan gelap.

“Selamat tinggal, Yusuf!” seru salah satu dari mereka. Yusuf kecil terjatuh, tapi Allah melindunginya. Air di dasar sumur menahan tubuhnya agar tidak terluka. Dalam kegelapan itu, Yusuf menangis. Namun, Allah berfirman dalam hatinya:

“Jangan takut, wahai Yusuf. Kelak engkau akan mengingatkan mereka tentang perbuatan ini.”

Setelah melempar Yusuf ke dalam sumur, para kakaknya menyembelih seekor kambing. Mereka melumuri baju Yusuf dengan darah kambing itu agar tampak seperti darah yang berasal dari gigitan serigala. Malam harinya, mereka pulang menemui ayah mereka dengan wajah pura-pura sedih dan air mata buatan.

Ayah! seru mereka sambil menangis:

“Saat kami sedang berlomba, kami meninggalkan Yusuf sebentar, lalu serigala datang dan memakannya.” Mereka menyerahkan baju Yusuf yang berlumuran darah.

Nabi Ya‘qub memandangi baju itu dengan air mata menetes di pipinya. Ia mengusapnya perlahan dan berkata dengan suara lirih,

“Sungguh, jiwa kalianlah yang mendorong perbuatan buruk ini. Maka aku hanya bisa bersabar dengan sebaik-baiknya kesabaran. Dan Allah-lah tempatku memohon pertolongan atas apa yang kalian ceritakan.”

Hati Nabi Ya‘qub hancur, tapi ia tidak marah. Ia memilih bersabar dan bertawakal kepada Allah, karena ia yakin bahwa Allah akan menjaga Yusuf di mana pun ia berada.

Sementara itu, di dalam sumur yang gelap, Yusuf berzikir kepada Allah. Ia mendengar suara langkah kaki di atas sumur ternyata ada rombongan musafir yang sedang mencari air. Salah satu dari mereka menurunkan timba, dan Yusuf pun berpegangan padanya. Ketika timba diangkat, para musafir terkejut:

“Subhanallah! Ini anak kecil!” seru mereka.

Dengan izin Allah, Yusuf pun diselamatkan. Ia dibawa keluar dari sumur dan kelak akan menempuh perjalanan panjang menuju Mesir, tempat takdir besar menantinya.

Pesan Moral:

Kisah ini mengajarkan bahwa iri hati dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kejahatan, dan kesabaran serta tawakal akan membawa pertolongan dari Allah. Walau Yusuf dibuang, Allah tetap menjaganya, karena siapa yang berserah diri kepada Allah, tidak akan pernah ditinggalkan.

===================================================================

Garahan, 24 Oktober 2025 / Jum'at, 02 Jumadil Awal 1447 H, 09.04 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post