Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 20 Qaswa yang Tabah (T.611)

Episode 20 Qaswa yang Tabah (T.611)

Di sebuah padang pasir yang luas dan tandus, hiduplah seekor unta bernama Qaswa. Tubuhnya tinggi, punggungnya kokoh dengan punuk yang besar, dan matanya teduh seakan menyimpan lautan kesabaran. Qaswa dikenal oleh para kafilah sebagai hewan yang sabar, kuat, dan setia menemani perjalanan jauh.

“Lihatlah unta ini,” kata seorang musafir,

“ia mampu berjalan berhari-hari tanpa lelah, menahan panas, haus, dan lapar.” Memang benar, Allah menciptakan unta dengan keistimewaan luar biasa. Ia bisa menahan air di tubuhnya, berjalan di pasir panas tanpa terbakar, dan membawa beban berat untuk membantu manusia.

Qaswa selalu ingat firman Allah dalam Al-Qur’an,

“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17).

Ayat ini mengingatkan bahwa unta adalah tanda kebesaran Allah, ciptaan-Nya yang penuh hikmah.

Suatu hari, kafilah pedagang melintasi padang pasir. Mereka membawa barang dagangan dari kota ke kota. Qaswa pun ikut membawa beban berat di punggungnya. Hari pertama, perjalanan masih ringan. Namun pada hari ketiga, angin gurun bertiup kencang, pasir berterbangan, dan panas matahari terasa membakar. Sebagian hewan mulai kelelahan. Namun Qaswa tetap melangkah sabar, tidak mengeluh, dan terus mengikuti tuannya.

Seekor keledai yang berjalan di sampingnya berkata:

“Qaswa, apakah kau tidak merasa lelah? Aku sudah hampir menyerah.” Qaswa menjawab dengan suara tenang:

Seekor keledai yang berjalan di sampingnya berkata:

“Qaswa, apakah kau tidak merasa lelah? Aku sudah hampir menyerah.” Qaswa menjawab dengan suara tenang:

“Tentu aku lelah, sahabatku. Tetapi aku percaya Allah memberi kekuatan pada setiap makhluk sesuai kebutuhannya. Tugasku adalah bersabar, karena sabar akan membawa kita sampai ke tujuan.”

Kata-kata Qaswa membuat keledai itu terdiam. Ia merasa malu karena terlalu banyak mengeluh. Qaswa pun melanjutkan langkahnya dengan sabar, seolah memberi teladan bahwa kesulitan pasti bisa dilalui bila kita bersandar pada Allah.

Malam itu, ketika kafilah berhenti, tuan Qaswa mendekat dan mengusap kepalanya. “Engkau sungguh hewan yang sabar, Qaswa. Tanpamu, perjalanan kami tidak akan sampai.” Qaswa hanya menundukkan kepala, seakan mengajarkan bahwa kesabaran adalah bentuk syukur kepada Allah.

Keesokan harinya, rombongan akhirnya sampai di kota tujuan dengan selamat. Para pedagang bersyukur, dan mereka semua memuji kesabaran unta yang telah membantu mereka. Seorang ulama yang menyambut kafilah itu berkata:

“Anak-anakku, lihatlah unta ini. Ia adalah tanda kebesaran Allah. Dari unta, kita belajar kesabaran, kekuatan, dan ketabahan. Maka janganlah kalian mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan hidup. Jadilah seperti unta, sabar dalam perjalanan menuju ridha Allah.”

Cerita tentang Qaswa pun menyebar di desa-desa. Anak-anak mendengarkan kisah itu dengan penuh takjub. Mereka belajar bahwa sabar bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan terus berjuang meski dalam keadaan sulit.

Seorang anak bernama Hasan berkata kepada ayahnya, “Ayah, aku ingin seperti unta yang sabar. Ketika belajar sulit, aku tidak akan mengeluh. Aku akan terus berusaha sampai bisa.” Ayahnya tersenyum dan berkata, “Itulah yang benar, Nak. Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Unta Qaswa akhirnya dikenal bukan hanya sebagai hewan kafilah, tetapi juga sebagai guru kesabaran. Setiap langkahnya di padang pasir menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan panjang. Dengan sabar, tawakal, dan syukur, setiap orang akan sampai pada tujuan yang diridhai Allah.

Kisah Qaswa mengajarkan pada anak-anak: bersabarlah seperti unta, karena kesabaran adalah kunci untuk menghadapi panasnya kehidupan dan membawa kita pada kesejukan surga.

===================================================================

Garahan, 26 Oktober 2025 / Ahad, 04 Jumadil Awal 1447 H, 12.21 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post