Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 23 Kambing yang Jadi Kurban (T.614)

Episode 23 Kambing yang Jadi Kurban (T.614)

Di sebuah padang pasir sunyi yang dipenuhi cahaya keemasan mentari sore, berdirilah seekor kambing putih dengan bulu bersih berkilau. Ia tampak tenang, matanya memancarkan kedamaian, seolah memahami makna hidup yang akan dijalaninya. Kambing itu bukan sembarang hewan; ia dipilih untuk menjadi bagian dari kisah besar yang diabadikan dalam Al-Qur’an, sebuah kisah tentang ketaatan, pengorbanan, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

Ribuan tahun silam, di negeri yang jauh dari hiruk-pikuk manusia, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menerima perintah agung melalui mimpi. Dalam mimpinya, ia diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Sebagai seorang ayah, tentu hatinya bergetar. Namun, Nabi Ibrahim bukan manusia biasa. Ia seorang kekasih Allah, yang keimanannya telah ditempa oleh ujian demi ujian berat.

Tatkala fajar menyingsing, Nabi Ibrahim memanggil putranya yang shalih, Ismail. Dengan lembut ia berkata,

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”

Ismail, dengan hati yang penuh kepasrahan, menjawab tanpa ragu,

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Maka berangkatlah keduanya menuju tempat penyembelihan. Langit tampak tenang, dan angin berhembus lembut. Tak ada jeritan, tak ada tangisan, hanya keheningan yang sarat makna. Nabi Ibrahim menundukkan kepala putranya, sementara Ismail berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Namun, sebelum pisau itu menyentuh kulit Ismail, datanglah panggilan dari langit, “Hai Ibrahim! Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.”

(QS. Ash-Shaffat: 104-105).

Dan di saat itulah, Allah menggantikan Ismail dengan seekor kambing yang besar dan indah. Allah berfirman: "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat: 107)

Kambing putih itu datang sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Ia menjadi tanda bahwa pengorbanan sejati bukanlah pada darah atau daging yang tertumpah, melainkan pada keikhlasan hati dan kepasrahan kepada perintah Tuhan.

Sejak hari itu, kisah kambing kurban menjadi simbol ketaatan yang tak lekang oleh waktu. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa itu dalam ibadah qurban. Mereka menyembelih hewan bukan untuk mempersembahkan darahnya kepada Allah, tetapi untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dan Ismail.

Seekor kambing, yang dalam keseharian tampak sederhana, menjadi lambang makna yang begitu dalam. Ia mengajarkan manusia untuk rela memberi, berkorban, dan menundukkan ego demi cinta kepada Allah. Dari tubuhnya mengalir pelajaran bahwa setiap makhluk memiliki peran suci dalam rencana Ilahi.

Ketika pisau tajam menebas leher hewan qurban di setiap Idul Adha, yang sejatinya dipotong bukan hanya hewan, melainkan keserakahan, kesombongan, dan keangkuhan manusia. Yang dihidupkan kembali bukan hanya daging untuk dibagi, melainkan semangat berbagi, kasih sayang, dan kepedulian sosial.

Kambing putih yang dahulu menjadi pengganti Ismail kini hidup dalam setiap hati orang beriman. Ia bukan lagi sekadar hewan ternak, tetapi simbol keimanan yang teruji. Dari kisah itu, manusia belajar bahwa Allah tidak membutuhkan harta atau tubuh kita, melainkan ketaatan dan keikhlasan yang murni.

Setiap kali seorang muslim menatap hewan kurban di hari raya, hendaknya ia mengingat pesan abadi itu: bahwa hidup adalah ujian pengorbanan, dan setiap ujian menuntut kesetiaan pada kebenaran.

Di padang yang diterangi cahaya lembut dari langit, kambing putih itu kini seakan tersenyum. Ia tahu bahwa pengorbanannya telah menjadi bagian dari kisah suci yang tak pernah usang, kisah tentang cinta seorang ayah kepada Allah, dan kasih Allah kepada hamba-hamba-Nya yang tunduk.

Dan begitulah, dari seekor kambing, lahirlah pelajaran agung: ketaatan sejati adalah ketika hati rela menyerahkan segalanya demi Allah.

=================================================================

Garahan, 29 Oktober 2025 / Rabu, 7 Jumadil Awal 1447 H, 05.45 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post