Penguasa, Cendekiawan dan Miliarder yang ditenggelamkan (T.602a)
Dunia adalah tempat persinggahan sementara semua akan berakhir dengan kematian. Liang kubur adalah salah satu tempat yang akan kita singgahi dan menjadi saksi amal perbuatan selama di dunia. Tahta, harta dan kecerdasan yang kita miliki akan ditinggalkan begitu saja tanpa harus kita menolehnya. Kesombongan selama di dunia tidak akan menjadi kita masuk surge bahkan kita akan terseret ke neraka.
Di dalam Al-Qur’an ada beberapa kisah yang kufur terhadap nikmat Allah bahkan kesombongan mendera mereka ke dalam perut bumi. Mari kita renungi kisah seorang penguasa, cendekiawan dan Miliarder yang tenggelam.

1. Kisah Raja Fir’aun: Penguasa yang Menyombongkan Diri di Hadapan Allah
Fir’aun adalah raja Mesir pada masa Nabi Musa ‘alaihissalam. Ia dikenal sebagai penguasa yang sangat kejam dan sombong. Fir’aun menindas Bani Israil dan memperbudak mereka. Setiap bayi laki-laki yang lahir dari kaum itu dibunuh karena ia takut kehilangan kekuasaannya. Ketika Nabi Musa datang membawa risalah tauhid, Fir’aun menolak dengan angkuh. Ia bahkan mengaku sebagai tuhan dengan berkata, “Ana rabbukum al-a‘la” (Akulah Tuhanmu yang paling tinggi).
Fir’aun memerintahkan tukang sihir untuk menandingi mukjizat Nabi Musa, tetapi ketika mereka melihat kebenaran, para penyihir itu justru beriman kepada Allah. Fir’aun murka dan semakin sombong. Hingga pada akhirnya, Allah memerintahkan Nabi Musa membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Fir’aun dan tentaranya mengejar mereka sampai ke tepi Laut Merah. Dengan izin Allah, laut terbelah dan Nabi Musa serta pengikutnya selamat. Saat Fir’aun mencoba mengikuti, laut kembali menutup dan menenggelamkannya.
Allah berfirman bahwa jasad Fir’aun diselamatkan agar menjadi pelajaran bagi manusia setelahnya (QS. Yunus: 92).
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”
Hikmah: Kesombongan dan kekuasaan tanpa iman akan membawa kehancuran. Tidak ada manusia sehebat apa pun yang bisa melawan kehendak Allah. Fir’aun menjadi contoh bahwa kekuasaan tanpa kerendahan hati hanya berakhir dengan kehinaan.

Haman adalah seorang penasihat sekaligus menteri yang sangat dipercaya oleh Fir’aun. Ia dikenal cerdas dan ambisius, namun ilmunya tidak disertai iman. Ketika Nabi Musa menyeru kepada ajaran tauhid, Haman menertawakannya dan malah mendukung Fir’aun untuk terus menentang Allah.
Fir’aun memerintah Haman untuk membangun menara tinggi agar ia dapat “melihat Tuhan Musa.” Perintah ini bukan karena ingin mencari kebenaran, tetapi hanya untuk mengejek dan membuktikan kesombongannya (QS. Al-Qashash: 38).
"Wahai para pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku."
Haman dengan patuh melaksanakan perintah itu, menjadi simbol ilmuwan dan pejabat yang membela kebatilan karena takut kehilangan jabatan dan kekuasaan.
Namun Allah tidak membiarkan kesombongan mereka. Dalam QS. Al-‘Ankabut: 39, Allah menyebutkan bahwa Fir’aun, Haman, dan Qarun semuanya dibinasakan karena keangkuhan mereka. Haman, meski cerdas dan berilmu, tidak mampu menolak takdir kehancuran yang menimpa dirinya bersama penguasa zalim yang ia bela.
Hikmah: Ilmu dan kedudukan seharusnya membuat manusia semakin tunduk dan takut kepada Allah. Namun jika digunakan untuk menolak kebenaran, keduanya justru menjadi sebab kebinasaan. Haman mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa iman hanyalah kesia-siaan.

Qarun adalah seorang dari kaum Bani Israil, namun ia dikenal karena kekayaannya yang luar biasa. Dalam QS. Al-Qashash: 76–82, disebutkan bahwa kunci-kunci gudang hartanya saja sangat berat dipikul oleh beberapa orang kuat. Namun Qarun menjadi sombong dan berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta ini karena ilmuku.” Ia lupa bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
Kaumnya menasihatinya agar tidak sombong dan menggunakan kekayaan untuk kebaikan, tetapi Qarun menolak. Ia bahkan menampakkan hartanya di hadapan orang-orang miskin agar mereka iri. Allah kemudian memperingatkannya dengan azab yang nyata. Tiba-tiba bumi terbelah dan menelan Qarun beserta rumah dan seluruh hartanya. Tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya.
Setelah peristiwa itu, orang-orang yang dahulu mengagumi Qarun menjadi sadar. Mereka berkata, “Benarlah, Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Hikmah: Kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan. Jika tidak disertai rasa syukur dan kepedulian, harta justru menjadi sumber kehancuran. Qarun mengajarkan bahwa harta harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan.
==================================================================
Garahan, 17 Oktober 2025 / Jum'at, 24 Rabiul Akhir 1447 H, 17.23 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
