Sang Revolusioner Jember (T.611a)
Siapa bilang kaum sarungan tidak bisa membuat sebuah buku atau catatan yang dapat menguak tabir yang tersimpan puluhan tahun bahkan bisa jadikan kisah sejarah baru di kota Pandalungan? Sebuah nama yang semula tidak begitu terkenal di negeri kota santri menjadi sebuah buah bibir yang tak terbantahkan dengan manuskrip yang tersimpan rapi di tumpukan buku-buku usang di pondok pesantren Yaitu KH. Abdul Chalim Shiddiq sang Pendiri Pondok Pesantren ASHRI Jember pada tahun 1931.
Selain Pendiri Pondok Pesantren ASHRI, KH. Abdul Chalim Shiddiq kini Sang Revolusioner yang baru terkuak dalam sebuah manuskrip berbagai bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Jawa, Madura, Belanda dalam aksara Pegon yang telah di translet ke dalam Bahasa Indonesia selama setahun lebih oleh para ahli translet. Diceritakan dalam manuskrip bahwa catatan yang penuh historis sangat detail sekali mulai hari dan tanggal penulisannya berikut kisahnya yang sangat mengharukan. Subhanallah Sangat disayangkan bila tidak memiliki buku yang bersejarah ini perjuangan KH. Abdul Chalim Shiddiq.
Jika kita membaca buku ini, Seolah-olah kita berada di tahun 1945-1947 disaat jaman kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan dimasa agresi militer Belanda. Bagaimana kejamnya Tentara Belanda dan antek-anteknya terhadap rakyat Jember khususnya para masyayih dan tentara Indonesia bahkan rakyat pada zaman revolusi kala itu.
Pada hari Sabtu, 25 Oktober 2025, Panitia Launching dan bedah Buku “Har-hari Revolusi Indonesia menghadirkan narasumber sekaligus para tokoh yang tidak asing lagi di dunia Literasi dan sejarah yaitu Rizal Muwaffiq Z, Rektor Universitas Al-Falah Assunniyah, Ayung Notonegoro, Founder Komunitas Pegon, dan Mrr. Ratna Endang W, Dosen Sejarah Universitas Jember yang bertempat di Halaman Pondok Pesantren ASHRI Jember.
Dengan paparan yang sangat lugas dan detail, saya mengetahui asal muasal buku ini di buat, Ayung Notonegoro mengkupas habis aksara pegon yang tertera dalam manuskrip KH. Abdul Chalim Shiddiq, Rizal Muwaffiq Z menjelaskan kiprah para pejuang para kyai di Nusantara baik sebelum Indonesia merdeka dan sesudahnya termasuk nasab-nasab para kyai yang melahirkan para pejuang yang melahirkan pondok pesantren. Ibu Mrr. Ratna Endang W, mengupas habis isi dari buku dari KH. Abdul Chalim Shiddiq dari kaca sejarah, kalau bisa KH. Abdul Chalim Shiddiq bisa di daftarkan menjadi Pahlawan Nasional dengan metode paket.
Untuk mengetahu lebih rinci, Silahkan baca kisahnya secara detail di buku K.H. Abdul Chalim Shiddiq “Hari-hari Revolusi Indonesia” yang telah launching, Niscaya kita akan banyak mengetahui perjuangan tiada henti dan tanpa pamrih dari sosok kyai Jember yaitu KH. Abdul Chalim Shiddiq.
=================================================================
Garahan, 26 Oktober 2025 / Ahad, 04 Jumadil Awal 1447 H, 13.11 WIB



Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
