Bura Pahlawan dan Pendekar dari Jember (T.625a)
Bura nama asli yang selama ini melegenda di tanah Pandalungan Jember. Dia terkenal dengan kesaktian yang luar biasa yang diceritakab secara turun temurun dari sesepuh di Jember Timur khususnya desa Jatian kecamatan Pakusari. Kenapa Bura terkenal dan dikatakan Pahlawan juga Pendekar.
Dalam memperingati hari Pahlawan ini Bura adalah pendekar sakti bersenjata celurit membuat tentara Belanda kewalahan dengan kesaktiannya yang luar biasa hanya bermodalkan celurit ditangannya kebal terhadap senjata apapun yang mendarat ditubuhnya.
Dia lahir di desa Jatian, Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember yang diapit oleh Kecamatan Mayang dan Kalisat. Pria gagah nan perkasa ini dilahirkan sekitar 45 tahun sebelum Indonesia merdeka. Memiliki ilmu kanoragan, kebal senjata tajam, senjata api dan senjata lainnya sehingga mampu berjuang memerdekan Indonesia.
Keberanian, kegagahan, kepiawaian, kewibawaan,tegap dan gagah yang ia miliki, masyarakat mempercayakan menjadi pimpinan lascar rakyat di wilayah Kecamatan Jember utara seperti kecamatan Ledokombo, Kalisat, dan Mayang. Mendengar keberaniannya menyulut semangat masyarakat untuk bergabung berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bagaimana Belanda tidak ketar-ketir menghadapi Bura hanya seorang diri kebal terhadap senjata apapun sehingga Belanda tidak berpangku tangan mengatur strategi agar Bura ditangkap baik dalam keadaan hidup atau mati.
Bura bukanlah anggota kesatuan TNI hanya sebagai pemimpin laskar rakyat semata. Walaupun Belanda telah diusir dari Indonesia khususnya di Jember dan digantikan oleh Penjajahan Jepang selanjutnya di tahun 1945 Indonesia merdeka. Setelah Indonesia merdeka terjadi agresi militer Belanda kedua, Belanda masih mengingat Bura, Pada bulan Juli 1947, pasukan Belanda berhasil masuk ke Jember dan yang pertama kali dicari oleh pasukan Belanda adalah Bura.
Pada Tanggal 26 Maret 1948, Bura berhasil ditangkap di Detasemen Mayang oleh pasukan Belanda dengan menyusupkan mata-mata orang pribumi ke dalam laskar rakyat yang berpusat di desa Jatian. Bura di arak keliling Kecamatan Kalisat dan kembali ke desa Jatian dan dibakar hidup-hidup hingga menjadi abu dipinggir sungai Jatian. Sebelumnya, Untuk menghentikan perlawanan Bura dan berhasil menangkapnya, Belanda menyandera ibunya, Ibunya diminta menceritakan kelemahan Bura yang tidak mempan senjata apapun.
Sebelum meninggal dibakar oleh pasukan Belanda, Bura berwasiat:
“Jangan sampai ada keturunannya mengusulkan untuk mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Biarkanlah perjuangannya, Allah yang menilai. Soal rizki, sudah ada ketentuan.”
Semoga perjuangan pak Bura mendapatkan ridho dari Allah SWT menjadi pahlawan abadi di hati orang Jember, Al-Fathihah….
=================================================================
Garahan, 10 November 2025 / Senin, 19 Jumadil Awal 1447 H, 16.06 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
