Episode 1 Pagi di Rumah berdinding bambu (T.624)
Hari Senin yang ceria, Gilang bersiap-siap berangkat sekolah setelah sholat subuh sembari membersihkan tempat tidurnya yang sangat sederhana dengan tempat tidurnya yang mulai tampak tua, dengan sapu lidi kecil mulai membersihkan tempat tidurnya dan merapikan selimut dan sprei yang memudar warnanya. Jam dinding dirumahnya menunjukkan pukul 06.00, Gilang menuju dapur mengambil piring dan mengambil nasi ditempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu, mengambil tempe goreng dan ikan pindang yang berada di atas meja makan.
“Sarapan yang banyak ya nak agar nanti di Madrasah tidak banyak beli jajan.” Kata ibunya yang muncul dari pintu dapur belakang.
“Iya bu, kalau nanti ada lebihnya uang jajan, Gilang akan tabung ke ibu guru.” jawab Gilang sambil mengunyah makanannya. Ibu Gilang mengelus kepala Gilang dan menatap wajah anaknya ini dengan penuh kasih sayang.

Sarapan pagi Gilang selesai, Ia menuju tempat sepatunya yang berada di belakang pintu dapur dan memakai kaos kaki terlebih dahulu dan memungut sepasang sepatunya, sepatu kirinya agak sedikit mengelupas dibagian depannya namun ia tetap memakainya tidak memberitahu kepada ibunya kalau sepatunya sudah usang.
“Bu, Gilang berangkat ke Madrasah dulu,”
Gilang menghampiri ibunya yang berada di dalam dapur yang masih membereskan dapurnya agar bersih sebelum berangkat kerja di warung nasi milik tetangganya.
“Iya Nak, hati-hati dijalan dan belajar dengan rajin di Madrasah,”
Gilang mencium tangan kanan ibunya dengan kedua tangannya dan meletakkan punggung tangan ibunya di hidungnya.
“Assalamualaikum,” Gilang keluar rumah dengan menggendong tas ranselnya yang lusuh menuju madarsahnya.
Ibunya menatap Gilang sampai di ujung jalan perkampungan yang dibatasi dengan rumpun bambu yang lebat.

Rumah Gilang berada di tepi sawah dan sungai di daerah pegunungan hutan Pinus, dengan lebar 5 meter dan panjangnya 12 meter, tidak ada kemewahan yang ada di dalam rumah itu, dindingnya terbuat dari kulit bambu yang teranyam dengan rapi membentuk persegi dicat pernis mengkilat, beratap genteng sederhana mempunyai empat kamar dengan tempat tidur beralaskan kasur kapuk, ruang tamu yang berisikan kursi dari batang bambu dan bilah bambu yang rapi anyamannya, ruang dapur yang bersih, perabot makan sederhana ala kampung menghiasi rak piring dan dinding dapur dan kamar mandi juga terbuat dari anyaman bambu dengan pancuran air yang berasal dari mata air pegunungan membuat rumah nampak asri dan segar. Di sebelah rumah terdapat kebun sayur dan kolam ikan.
===================================================================
Garahan, 09 November 2025 / Ahad, 18 Jumadil Awal 1447 H, 21.40 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
