Episode 11 Bapak Gilang jatuh Sakit di Bali (T.635)
Pagi itu, suasana madrasah begitu cerah. Gilang baru saja selesai menyapu kelas bersama temannya ketika ia melihat Ibu Sutinah, tetangga rumahnya, datang tergesa-gesa menuju pagar madrasah. Wajahnya tampak cemas. Gilang berhenti, merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
“Gilang, Nak… Ibu disuruh ibumu mengantar pesan,” ujar Bu Sutinah sambil menepuk bahunya perlahan.
Gilang memandangnya bingung,
“Ada apa, Bu?”

“Ibumu minta kalau pulang jangan bermain dulu ke rumah temanmu langsung pulang saja. Ada kabar penting tentang ayahmu.”
Mata Gilang langsung membesar. Perutnya terasa dingin,
“Bapak kenapa, Bu? Apakah bapak mengalami kecelakaan?”
Bu Wati menghela napas,
“Ibu tidak tahu pasti. Tapi ibumu terlihat sangat khawatir.”
Gilang menelan ludah. Ada rasa takut yang sulit ia jelaskan. Ia mencoba tetap kuat, lalu mendatangi kelas dengan kepala tertunduk.
Di dalam kelas, Bu Guru Rohmah menyadari perubahan pada wajah Gilang,
“Gilang, kamu terlihat pucat. Apakah kamu sakit nak?”
Gilang menggelengkan kepala. Namun akhirnya ia berkata pelan,
“Bu… saya dapat pesan. Katanya Ibu saya langsung pulang. Ada kabar tentang bapak di Bali”

Bu Guru mengangguk penuh pengertian dan menepuk bahunya,
“Sabar ya, Nak. Fokus belajar sebisa kamu. Kalau butuh izin pulang lebih awal, bilang saja tidak apa-apa, Ibu Guru akan mengizinkan”
Gilang menggeleng dan lesu.
“Saya tunggu sampai pulang sekolah, Bu.”
Hari itu terasa sangat panjang bagi Gilang. Ketika bel pulang berbunyi, ia langsung berlari menuju rumah. Nafasnya memburu, seakan tubuhnya ikut berlari dari rasa takut.
Sesampainya di rumah, ibunya sedang duduk di ruang tengah sambil memegang selembar kain yang belum selesai dilipat. Mata ibunya sembab.

“Bu…” panggil Gilang, suaranya gemetar,
“Bapak kenapa?”
Ibunya memandangnya lama sebelum menjawab,
“Bapakmu jatuh sakit di Bali, Nak. Tadi pagi kita dapat kabar dari Pak Sunarto, teman satu kerjanya. Katanya Bapakmu pingsan saat bekerja mendorong gerobak sampah. Sekarang dirawat oleh Bibi Aminah dan Pak lek Pairan di rumah kontrakan.”

Gilang menutup mulutnya dengan tangan,
“Ya Allah… Bapak kenapa pingsan?”
“Kata Pak Sunarto, bapakmu kecapekan. Beberapa hari ini lembur terus,memilah sampah sampai larut malam, sudah diingatkan sama bibimu namun bapak tidak menggubrisnya, akhirnya bapak pingsan” jawab ibunya lirih.
Gilang duduk di samping ibunya,
“Bu… apa kita berangkat ke Bali?”
Ibunya menggeleng pelan,
“Biayanya tidak sedikit, Nak. Ibu masih pikirkan cara terbaik.”
Gilang menunduk. Air matanya mulai berkumpul, tapi ia berusaha menahannya,
“Bu, Gilang takut, takut bapak makin sakit dan masuk rumah sakit”
Ibunya memeluknya erat,
“Ibu juga takut, Nak. Tapi kita harus percaya bahwa Allah menjaga bapak.”
Siang itu rumah terasa sangat hening. Ibu Gilang menyelesaikan melipat baju, hari ini pulang terlebih dahulu dari warung nasi. Gilang duduk di teras sambil melihat jalanan, berharap ada kabar baru datang melalui tetangga atau rekan bapak yang kebetulan lewat.
Tiba-tiba Pak Sunarto datang dengan sepeda motornya. Gilang dan ibunya bangkit berdiri.
“Bagaimana keadaan suami saya, Pak?” tanya ibu dengan suara bergetar.
“Alhamdulillah, Bu,” kata Pak Sunarto.
“Tadi sudah sadar. Sudah bisa duduk meski masih lemas. Ibu Aminah dan Pak Pairan juga sedang membantu merawat. Dia cuma bilang rindu sama Gilang dan minta kalian tidak usah terlalu cemas.”
Gilang menutup wajahnya, lega bercampur haru.
“Bapak bilang begitu, Pak?”
Pak Sunarto mengangguk.
“Iya, dia kuat demi kalian.”

Malam itu, setelah salat Isya, Gilang duduk di samping ibunya. Ia membuka Al-Qur’an kecil pemberian bapak sebelum berangkat merantau dulu.
“Bu, Gilang mau bacakan Surat Yasin untuk bapak. Biar Ayah cepat sembuh.”
Ibunya tersenyum tipis,
“Iya, Nak… itu yang paling bapakmu butuhkan, doa dari anaknya.”
Gilang membaca dengan suara pelan, bergetar namun penuh keyakinan. Setiap ayat ia niatkan sebagai doa untuk kesehatan bapaknya.
Beberapa hari kemudian, Pak Sunarto datang lagi membawa kabar baik,
“Bapakmu sudah jauh lebih baik. Sudah bisa makan sendiri dan berjalan sedikit.”
Gilang tersenyum lebar.
“Alhamdulillah!”
Pak Sunarto menambahkan,
“Kalau tidak ada halangan, minggu depan bapakmu kalian akan pulang.”
Gilang memeluk ibunya,
“Bu, bapak benar-benar sembuh!”
Ibunya mengelus rambut Gilang,
“Doamu didengar Allah, Nak.”
Di hari itu, Gilang merasa dunia yang sebelumnya gelap kini kembali terang karena harapan selalu datang bagi mereka yang bersabar.
================================================================
Garahan, 21 November 2025 / Jum'at Pon, 30 Jumadil Awal 1447 H, 19.30 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
