Episode 12 Doa di Tengah Malam (T.637)
Malam itu, rumah Gilang terasa sangat sunyi. Angin hutan pinus hanya sesekali berhembus masuk dari celah jendela kayu, membawa aroma pinus yang baru terkena embun. Gilang sudah berbaring di kamarnya, tetapi matanya tak bisa terpejam. Walaupun Bapaknya dalam tahap penyembuhan namun ia terbayang wajah bapaknya yang berada di kota Denpasar.
Ia memandang langit-langit kamar yang remang:
“Bapak, Kapan pulang?” gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian, ia bangkit duduk. Ada dorongan kuat dari hatinya untuk melakukan sesuatu. Ia membuka pintu kamarnya perlahan agar tidak membangunkan ibunya. Suara kakinya melangkah menuju ruang tengah.
Rumah itu gelap. Hanya sedikit cahaya bulan yang menyelinap dari sela jendela. Gilang menyalakan lampu neon di sudut ruangan untuk mengambil wudhu’, lalu mengambil sajadah dari lemari. Ia membentangkannya di lantai, menghadap kiblat.
Di luar, suara jangkrik terdengar jelas, seakan menjadi irama malam yang menemani hatinya yang gelisah.

Gilang berdiri tegak. Ia berniat salat tahajud sesuatu yang dulu sering dilakukan bapaknya:
“Kalau kamu rindu bapak, bangunlah di sepertiga malam. Di situ Allah paling dekat dengan hamba-Nya,” begitu kata ayah dengan bahasa isyarat, bapaknya mengatakan suatu malam sebelum berangkat merantau.
Mengingat kalimat itu membuat dada Gilang terasa hangat sekaligus perih.
Ia takbir, lalu memulai salatnya. Suaranya pelan, tapi penuh kesungguhan. Setiap gerakan ia lakukan dengan hati-hati, seolah takut membuat kesalahan. Setelah salam, ia tetap duduk di atas sajadah, menatap lantai dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ia mengangkat tangannya:
“Ya Allah, pulihkanlah kesehatan bapak yang berada di kota Denpasar, panjangkanlah umurnya dan sehat selalu, Jika bapak terlalu lela kuatkan dia, ya Allah. Gilang sayang sekali sama bapak. Gilang ingin bapak pulang. Gilang tidak ingin melihat Ibu sedih terus, Ya Allah, jangan pisahkan Gilang dengan bapak tolong jaga bapak di tempat jauh itu, Robbana Atina Fiddunnya hasanah wa fil akhiroti hasanah, Wa qina ada bannar.” suaranya lirih, nyaris seperti bisikan. Air mata menetes satu per satu, jatuh ke sajadah yang sudah mulai basah.
Tangisnya pecah, tetapi ia tidak menghentikan doa. Justru semakin deras air matanya, semakin tulus kalimat yang keluar dari bibirnya.

Suasana ruang tengah menjadi saksi bisu seorang anak yang sedang berbicara dengan Tuhannya tanpa perantara, tanpa keluhan, hanya ketulusan dan rindu.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki pelan dari arah kamar. Ibu muncul dengan mukena yang masih terlipat setengah. Ia memandang Gilang yang bersimpuh di lantai sambil menangis pelan.
“Gilang…” panggilnya lembut.
Gilang mengusap air matanya terburu-buru:
“Maaf, Bu… Gilang tidak bermaksud membangunkan Ibu.”
Ibunya duduk di sampingnya dan merangkul bahunya:
“Kamu tidak membangunkan Ibu, Nak. Ibu memang terjaga. Ibu dengar kamu menangis.”
Gilang menunduk, merasa malu:
“Bu… Gilang cuma ingin bapak cepat sembuh…”
Ibunya mengusap kepalanya:
“Nak… doa seperti ini yang paling bapakmu butuhkan. Doa anak yang tulus, di tengah malam, dengan hati bersih.”

Gilang mengangguk pelan:
“Tadi Gilang berdoa agar bapak kuat dan cepat pulang. Gilang takut, Bu.”
Ibunya menatap wajah Gilang yang masih basah air mata:
“Semua orang takut kehilangan orang yang disayang. Tapi kita harus percaya bahwa Allah sayang sekali pada bapakmu. Doamu pasti terdengar.”
Gilang kembali menangis, kali ini di dalam pelukan ibunya:
“Bu… kalau Gilang rajin tahajud, boleh kan Gilang niatkan untuk bapak terus?”
“Tentu boleh, Nak. Bahkan itu sangat mulia.”
Mereka duduk bersama dalam keheningan, hanya terdengar suara detak jam dinding tua berdebu yang berjalan pelan. Setelah beberapa saat, ibu bangkit dan berkata:
“Bagaimana kalau Ibu menemani Gilang membaca Al-Qur’an sebentar? Kita kirim doa bersama-sama untuk bapak.”
Gilang mengangguk cepat.
“Iya, Bu.”
Ibu mengambil mushaf dari rak kayu, sementara Gilang mengambil mushaf kecil miliknya. Mereka duduk berdampingan, membaca Surah Yasin dalam suara pelan dan serempak. Setiap ayat terasa menenangkan, seolah menghapus sebagian rasa khawatir Gilang.
Setelah selesai, ibu berkata,
“Insyaallah, Nak. Semakin banyak kita memohon, semakin dekat pertolongan Allah.”
Gilang tersenyum kecil meski matanya masih merah:
“Gilang percaya, Bu.”
Malam itu, ia kembali tidur dengan hati lebih tenang. Dan di luar sana, di Bali, bapaknya tiba-tiba merasa tubuhnya lebih ringan. Entah mengapa, ia tidur lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya seolah ada doa yang memeluknya dari jauh.
=================================================================
Garahan, 23 November 2025 / Ahad, 1 Jumadil Akhir 1447 H, 15.16 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
