Episode 13 Hadiah dari Ibu guru Rohmah (T.638)
Langkah kaki Gilang menuju madrasah di temani cahaya matahari pagi tersembul di gunung Gumitir menambah kepercayaan dirinya bahwa hari ini miliknya. Ia yakin doa-doa yang ia panjatkan tadi malam akan di ijabah oleh Allah, Insyaallah bapaknya yang masih sakit sudah sembuh, yakin dan meyakinkan akan kekuatan doa. Ia meletakkan tas ranselnya yang kumuh ke kursinya dan memulai menyapu kelas karena hari ini giliran piket.

“Assalamualaikum Gilang, wah nampaknya hari ini kamu kelihatan bahagia.” Suara itu terdengar dari belakangnya.
“Eh Bu guru, Alhamdulillah sudah lumayan bu,” jawab Gilang ke Ibu guru Rohmah yang berada di depannya.
“Ibu yakin, Gilang pasti bisa mengatasi masalah ini dengan baik, sabar itulah kuncinya,” lanjut Ibu Rohmah.
“Insyaallah bu, Gilang akan selalu sabar.”
“Oh ia bu, tadi Ibu tidak kelihatan di gerbang, sehingga Gilang tidak salaman sama Ibu.”
Gilang meraih tangan Ibu Rohmah dan menyalami punggung tangan kanannya ke ujung hidungnya sebanyaj tiga kali.
“Silahkan lanjutkan menyapunya Gilang, Ibu Guru hanya memastikan Gilang hari ini masuk sekolah.”
“Ia bu terima kasih bu,”
Ibu Rohmah berlalu dari pintu kelas 5 menuju kantor yang tak jauh dari kelas 5.

Gilang melanjutkan menyapu kelas dan terasnya, Nabil pun membantu Gilang menyapu yang baru datang. Nabil senang melihat Gilang masuk sekolah karena kemarin nampaknya sedih setelah mendengar kabar bapaknya yang sakit.
“Gilang, bagaimana kabar bapakmu?” Tanya Nabil yang setelah menyelesaikan menyapu di teras kelas.
“Alhamdulillah, bapak sudah mendingan kata teman bapak yang baru pulang dari Bali,”
“Syukurlah kalau bapakmu sudah membaik, ayo kita main bola,” ajak Nabil ke Gilang sambil menarik lengannya menuju lapangan bola yang berada di belakang Madrasah.
Kegiatan pembelajaran di Madrasah sama seperti hari-hari sebelumnya, banyak sekali giat pembelajaran di dalam kelas, kelas 1 dan kelas 2 ramai dengan bernyanyi tentang tema belajar pada hari itu. Guru-guru lainnya yang berada di kelas tinggi sangat serius dengan kegiatan pembelajaran yang bermakna.

Bel istirahat terdengar menandakan semua siswa untuk segera keluar kelas untuk istirahat. Siswa berhamburan ke halaman madrasah ada yang menuju kantin madrasah dan ada juga bermain di halaman kejar-kejaran. Suara sepatu ibu guru Rohmah menuju kelas 5 mencari siswa mungkin ada di dalam kelas.
“Arkan, kelihatan Gilang?” tanyanya ke salah satu siswanya yang berada di dalam kelas.
“Gilang tadi ada di halaman bu, biar Arkan cari bu,”
“Terima kasih Arkan, sampaikan ke Gilang suruh dia ke kantor,”
“Iya bu.”
Arkan dengan berlari kecil keluar kelas menuju halaman madrasah mencari Gilang di antara kerumunan siswa yang sedang bermain.

“Assalamualaikum,” Sedikit membungkukkan badannya, Gilang masuk ke kantor guru menuju meja Ibu Rohmah dan berdiri di hadapan Ibu Rohmah yang telah menunggunya.
“Walaikumsalam Gilang, Ayo Gilang duduk!” jawab Ibu Rohmah dengan senyuman khasnya.
“Jangan takut Gilang, ibu guru hanya mau mengatakan sesuatu kepada Gilang,” Lanjut Ibu Rohmah,
Dengan membungkuk badannya dan menggeser kursi, Gilang dengan penuh hormat duduk tanpa menatap wajah Ibu Rohmah, dalam dirinya bertanya-tanya, apakah dirinya punya salah sehingga dirinya di panggil ke Kantor.
“Gilang, Ibu guru merasakan kesedihan apa yang Gilang rasakan saat ini, Bapak Gilang yang bekerja di Bali mengalami sakit tentunya Gilang akan merasa sedih karena tidak bisa kesana, dan selama beberapa hari bapak Gilang tidak bekerja supaya cepat sembuh.”
Gilang kembali sedih dan menunduk wajahnya ke lantai kantor dan tidak bisa berkata-kata ketika Ibu guru Rohmah berkata dengan penuh kasih sayang.
“Ibu guru paham dengan kondisi bapakmu saat ini, oleh karena itu, Ibu guru mau menyampaikan sebuah amplop ke Gilang untuk meringankan beban ibumu dan bapakmu, ayo ini ambil Gilang!”
Gilang tidak berani mendongak wajahnya ke Ibu guru Rohmah, tangannya diremas-remas untuk mengurangi kegalauannya antara di terima dan tidak amplop yang diberikan oleh Ibu Rohmah.
“Ayo Gilang diterima, jangan malu-malu, ambil saja, semoga uang yang sedikit bermanfaat untuk ibumu.” Tangan Ibu Rohmah meraih tangan kanan Gilang dan menyerahkan amplop itu ke tangan Gilang.
“Iya bu terima kasih banyak,”
“Nah gitu, Ayo jangan bersedih lagi, mana senyum Gilang yang bu guru senangi?”
Wajah Gilang di angkat wajahnya walau sedikit malu dan tersenyum dengan kedua lesung pipinya.
“Yah sudah, Gilang kembali bermain dengan teman-temannya di luar.”
“Iya bu, terima kasih banyak atas bantuannya, Assalamualaikum.”
Gilang menyalami tangan ibu gurunya sambil membungkuk keluar dari kantor dan memasukkan amplopnya ke dalam sakunya.
“Terima kasih Ya Allah atas rizkimu hari ini.” Gumam Gilang dalam batinnya.
=================================================================
Garahan, 24 November 2025 / Senin, 2 Jumadi Akhir 1447 H, 17.16 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
