Episode 14 Gilang dan Cita-Cita Menjadi Guru (T.638)
Embun pagi di lembah gunung Gumitir mengalir di perkampungan tempat Gilang bertempat tinggal, cahaya matahari menembus lembut lewat jendela kelas. Udara terasa sejuk dan suara burung kutilang di pepohonan samping madrasah menambah suasana yang tenang. Gilang duduk di bangku paling depan, sambil lalu membuka buku tulisnya sambil sesekali melirik ke arah gerbang madrasah menunggu kedatangan Ibu Rohmah, guru yang selama ini sangat ia kagumi. Suara sepatu ibu Rohmah terdengar menuju kelas, ketika pintu terbuka, Ibu Rohmah muncul dengan senyuman hangat seperti biasa.

“Assalamualaikum, anak-anak hebat,” ucapnya lembut.
“Walaikumsalam Wa Rohmatullahi Wa barokatuh!” jawab seluruh siswa serempak.
Langkah kaki Ibu Rohmah masuk ke dalam kelas membawa beberapa kartu huruf dan alat peraga,
“Hari ini kita belajar sambil bermain, ya? Kita akan membaca cerita pendek, lalu berdiskusi.”
Dengan penuh semangat Gilang mengangguk. Cara ibu Rohmah mengajar sangat ia sukai, jarang sekali marah, suaranya selalu lembut, dan ia selalu membuat siswa merasa aman dan nyaman.
Ibu Rohmah memulai pelajaran dengan membacakan sebuah cerita tentang seekor burung kecil yang belajar terbang meski takut jatuh. Telinga Gilang mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya berbinar.
Tidak terasa Ibu Rohmah selesai bercerita, Gilang menyimak dengan imajinasi yang penuh seolah-olah menyaksikan film yang nyata.
“Pelajaran apa yang terkandung dalam cerita tersebut?”
Semua siswa terdiam tampak berpikir keras untuk mencari jawaban yang sesuai.

Tiba-tiba Gilang memecah suasana dengan mengangkat tangannya,
“Bu, burung itu berani mencoba meskipun takut. Sama halnya dengan kita kalau mau belajar hal baru, harus berani dulu, berani mencoba.”
Ibu Rohmah tersenyum bangga,
“Masyaallah, Gilang. Tepat sekali, keberanian adalah langkah awal untuk meraih cita-cita.”
Hati Gilang berbunga-bunga. Setiap pujian dari Ibu Rohmah terasa bukan hanya membesarkan hati, tapi juga meneguhkan sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang perlahan tumbuh sejak malam ia berdoa untuk bapaknya.
Pelajaran telah usai, saat anak-anak lain keluar kelas untuk istirahat, Gilang tetap duduk sambil membereskan buku-bukunya dan measukkan kembali ke dalam tas ranselnya. Ibu Rohmah menghampirinya.
“Gilang! Hari ini kamu kelihatan lebih serius dari hari-hari biasanya. Ada yang ibu bisa bantu?” tanyanya pelan sambil memegang pundak Gilang. Gilang ragu sejenak, namun ia berkata kepada Ibu Rohmah,
“Bu, boleh gilang bertanya sesuatu?”
“Tentu nak!”
Gilang menunduk,
“Bu, apakah menjadi seorang guru itu susah bu?”
Ibu Rohmah tersenyum:
“Wah pertanyaannya bagus Gilang!”
“Gilang lihat Ibu sabar sekali. Gilang ingin jadi seperti itu menjadi seorang guru yang sabar dan baik seperti ibu.”
Ibu Rohmah terdiam beberapa detik, kemudian duduk di bangku sebelah Gilang,
“Nak, menjadi seorang guru itu bukan hanya soal mengajar. Menjadi guru adalah tentang hati.”
“Hati?” Gilang mengangkat wajahnya.
“Iya, Hati kita benar-benar tulus!” Jawab Ibu Rohmah sambil menatap lembut,
“Guru harus siap mendengarkan, memahami watak murid-muridnya, tersenyum meski lelah, walau sakit dikuatkan menampakkan wajah sehatnya, dan mendoakan mereka setiap malam. Guru yang baik bukan yang paling pintar, tapi yang paling tulus dan ikhlas.”
Gilang menyimak dengan mata yang membesar. Kata-kata itu menyentuh hatinya.
“Jika Gilang ingin menjadi seorang guru, Gilang harus rajin belajar, sabar, dan punya niat yang baik, tidak perlu siswanya menjadi pintar akan tetapi mengantarkan mereka dalam pemahaman yang mendalam.” Lanjut Ibu Rohmah.
“Apalagi kalau niatnya untuk ibadah dan membantu anak-anak, Insyaallah akan dimudahkan jalan kita.”
Gilang menelan ludah, lalu berkata pelan,
“Gilang ingin menjadi seorang guru, Bu. Gilang ingin membuat anak-anak senang belajar, seperti Ibu membuat Gilang senang.”
Ibu Rohmah menepuk bahu Gilang dengan bangga,
“Masyaallah, Ibu senang sekali mendengarnya. Ibu doakan ya, semoga suatu hari nanti Gilang benar-benar menjadi guru yang hebat.”
Gilang tersenyum lebar. Ada harapan baru di dalam dadanya, harapan yang tumbuh dari ketulusan seorang guru.
Terik matahari menyengat kulit Gilang, setelah pulang sekolah, Gilang membersihkan halaman. Saat ia menyapu, tiba-tiba ia berkata hati berbisik:
“Apakah aku mampu menjadi seorang guru yang baik dan sabar?”
Setelah pulang mengaji, Gilang menemui ibunya yang sedang melipat baju di balai-balai ruang tengah,
“Bu, boleh Gilang mengatakan keinginan yang selama ini saya pendam,” Gilang menghampiri ibunya,
“Gilang ingin menjadi seorang guru bu,”
“Subhanaallah, mulia benar cita-citamu nak, Ibu pasti mendukung penuh apa yang menjadi keinginan Gilang!”
“Iya bu, Gilang ingin seperti Ibu Rohmah, sabar dan baik.”
Ibunya tersenyum hangat dan mendekati Gilang, megusap kepala Gilang seraya berkata:
“Ibu selalu tahu dalam hatimu nak, kalau itu cita-citamu, lanjutkanlah Ibu dan bapak akan selalu mendoakanmu.”
Gilang mengangguk dengan mantap,
“Gilang ingin bantu anak-anak kampung ini untuk belajar dan mencapai cita-cita mereka.”
Ibunya menitikkan air mata haru,
“Bapakmu pasti bangga, nak! Sangat bangga.”
Di bawah langit sore yang memerah, di kaki pegunungan Argopuro, Gilang menemukan arah baru dalam hidupnya. Bukan hanya sekedar mimpi masa kecil tetapi cita-cita yang tumbuh dari hati, dari guru yang menginspirasinya, dan dari doa-doa yang ia panjatkan untuk bapaknya.
===========================================================================================
Garahan, 25 November 2025 / Selasa, 3 Jumadil Akhir 1447 H, 14.55 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
