Episode 16 Ikut Lomba Menulis Cerita (T.640)
Setiap hari Senin pagi, Madrasah selalu mengadakan Upacara pengibaran bendera. Gilang selalu menjadi petugas upacara akan tetapi hari giliran kelas 6 yang menjadi petugas upacara. Hari senin ini tampak lebih ramai dari hari Senin biasanya, Ada suara riuh gemuruh siswa terutama kelas 1 dan 2 walau ramai tetap tertib karena para guru berjaga di halaman. Hari ini ada upacara khusus. Gilang yang berdiri di baris tengah bersama teman-temannya. Ia masih membawa semangat baru setelah mengetahui kabar baik tentang bapaknya yang telah kembali sehat.
Pembina upacara hari ini adalah kepala Madrasah yaitu Pak Abdurrahman, Saat Pembawa acara membacakan amanah Pembina upacara, Pak Abdurrahman maju ke depan dengan mikrofon yang telah berdiri tegak dengan standing mikrofon, suara lantang dan penuh wibawa mengucapkan terima kasih kepada petugas upacara yang telah melaksanakan tugas dengan sempurna, di sela-sela pidatonya, Pak Abdurrahman berucap:
“Anak-anakku sekalian, hari ini saya umumkan sesuatu yang sang istimewa dari hari Senin sebelumnya.”

Para siswa langsung saling pandang, ada rasa penasaran yang besar dibenak mereka termasuk Gilang mengakkan tubuhnya, Oksigen di halaman Madrasah terasa penuh rasa ingin tahu yang tak berkesudahan, kira-kira apa yang akan di sampaikan kepala madrasah.
“Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November, madrasah kita akan mengadakan lomba menulis kisah dengan tema Pahlawan dalam Hidupku.”
Beberapa siswa terutama kelas atas terdengar membisikkan,
“Wah lomba menulis cerita pendek!”
“Pasti seru!”
“Siapa yang ikut ya?”
Kemudian Pak Abdurrahman melanjutkan:
“Siapa saja boleh ikut menulis kisah tentang siapa saja yang menurut kalian sebagai pahlawan ada orang tua, guru, teman atau seseorang yang telah berjasa dalam hidup kalian.”

Hati Gilang berdebar-debar, Tiba-tiba sosok bapak muncul di kepalanya. Bapaknya yang sedang menarik gerobak dan menyapu di jalanan kota Denpasar, senyumnya, peluhnya, berjuang untuk kelangsungan hidup keluarga dan demi menyekolahkan dirinya, semua hadir begitu jelas.
Masih ada ragu tertancap dalam hati Gilang,
“Bisakah aku menulis cerita perjuangan bapak dengan baik? Apa kisahku nantinya layak ikut lomba?” Pikirnya.
Pak Abdurrahman menyudahi pidatonya dan sesaat kemudian upacara telah usai dan para siswa kembali ke kelas masing-masing. Di dalam kelas, Ibu Rohmah langsung menuliskan tema lomba di papan tulis, tentunya siswa kelas 5 yang berminat hanya ada beberapa saja,

“Anak-anak, Ibu ingin kalian ikut lomba ini dan berpartisipasi. Tulisan dan ceritanya tidak harus sempurna, yang penting apa yang ada dipikiran kalian dituangkan dalam kertas. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang tercipta dari hati yang paling dalam,” ucapnya.
Mata Ibu Rohmah tertuju pada tangan yang terangkat,
“Ya Gilang silahkan apabila ada yang mau ditanyakan mengenai lomba ini?”
“Boleh saya bertanya bu, apakah tulisan yang sederhana bisa ikut lomba? Maksud Gilang kalau belum pandai menyusun kata-kata?”
Senyum mengembang Ibu Rohmah sambil memandang Gilang,
“Gilang! Menulis itu tidak harus indah seperti para pujangga. Seni menulis adalah menyampaikan isi hati. Kalau Gilang menulis dengan perasaan, dengan bahasa kita sendiri, itu sudah lebih dari cukup.”
Sesaat teman-teman menoleh ke wajah Gilang. Ada yang mengangguk tanda setuju
Rara menepuk bahu Gilang yang berada di sampingnya,
“Kamu harus ikut, lang. Saya yakin kamu pasti bisa karena kamu suka bercerita.”
Rafi menambahkan dengan ucapan:
“Iya Lang, cerita kamu waktu bapakmu sakit saja bikin kita ikut sedih. Kamu pasti bisa!”
Rupanya teman-temannya ada yang mendukung, dengan senyum lesung pipinya mengangguk pertanda setuju dan mau ikut lomba.

Sebelum berangkat mengaji, Gilang duduk di lantai ruang tengah dengan buku tulis di depan dan balpoin di tangan. Di dinding anyaman bambu tergantung foto bapaknya yang setengah badan. Namun. Sejak tadi balpoin itu hanya berputar-putar ditangannya, Gilang mencari ide terasa buntu pikirannya, harus di mulai darimana?
Tiba-tiba daun pintu terbuka,
“Assalamualaikum!” sebuah salam terdengar dari belakang badan Gilang.
“Walaikumsalam, loh ibu kok pulang lebih awal?”
Ibunya duduk di sampingnya dan melihat buku tulis Gilang masih kosong,
“Iya, Ibu pulang untuk sholat Ashar terlebih dahulu sebelum kembali ke warung. Gilang, nampaknya kamu bingung mau di mulai dari mana?
Gilang mengangguk agak berat, kehilangan ide.
“Bu saya punya cerita yang banyak. Tapi Gilang bingung mau pilih mana?”
Ibunya tersenyum lembut, walaupun buta huruf, ia tahu jalan pikiran anaknya yang ingin di tulis untuk dibuatkan cerita,
“Gilang! Tanyakan pada hatimu, siapa orang yang paling memberi arti hidup saat ini?”

Ruangan hening sejenak, tatapan mata ibunya member isyarat, Lalu Gilang berkata lirih,
“Bapak!”
Dengan usapan kasih sayang di kepalanya Ibunya berkata:
“Kalau begitu, tulislah cerita tentang bapakmu. Tulislah apa yang kamu rasakan saat ini, bukan hanya yang kamu ingat.”
Gilang bernapas panjang dan merasakan ketenangan dan menatap halaman buku yang masih kosong. Lalu, perlahan jari-jarinya mengukir tulisan:
“Pahlawan itu bagiku bukanlah orang yang memakai jubah atau membawa pedang, bukan pula orang berdasi dengan jas yang mapan, bermobil. Pahlawanku adalah seseorang yang bekerja keras demi keluarganya yangjauh dari tempat tinggalnya. Ia bangun lebih awal dari munculnya matahari dan pulang setelah bulan tinggi di langit….”
Kalimat demi kalimat terus mengalir. Tidak cepat tapi pasti. Setiap kalimat lahir dari rasa sayang, rindu, dan kekaguman kepada bapaknya yang jauh dari rumah.
Hari itu, Gilang mengetahui pahlawan tidak selalu berteriak lantang ketika berperang, memegang senjata.n bisa jadi sesederhana seorang bapak yang rela jauh dari keluarga demi masa depan anak-anaknya.
Hari itu, Gilang belajar bahwa kadang pahlawan tidak selalu berteriak atau berperang. Pahlawan bisa jadi sesederhana seorang ayah yang rela jauh dari keluarga demi masa depan anak-anaknya.
Dengan percaya diri, ia siap mengikuti lomba bukan untuk menang akan tetapi untuk menghormati sosok yang telah mengajarkan arti cinta, kesabaran, dan pengorbanan seorang bapak.
===================================================================
Garahan, 27 November 2025 / Kamis, 05 Jumadil Akhir 1447 H, 09.09 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
