Episode 17 Menulis tentang Bapak (T.641)
Malam itu, lampu dop di kamar Gilang menyala redup namun cukup terang untuk membuat huruf-huruf di bukunya terlihat jelas. Di luar, hujan turun perlahan, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan. Gilang duduk dengan tubuh sedikit membungkuk, pensil di tangan, dan secarik kertas yang mulai penuh tulisan.
Meski sudah menulis beberapa paragraf, tangannya bergetar. Ada perasaan yang sulit dijelaskan campuran rindu, haru, dan bangga.

Ia menarik napas pelan lalu kembali membaca kalimat terakhir yang ia tulis:
“Bapak bukan hanya pencari nafkah. Bapak adalah penjaga mimpi-mimpi kami.”
Saat membacanya, dadanya terasa sesak. Beberapa detik kemudian, ia merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir di pipinya. Ternyata air mata.
Ia cepat menyeka, namun air mata lain menyusul.
“Kenapa aku nangis?” bisiknya lirih.
Padahal ia sendiri tahu jawabnya karena setiap kalimat itu lahir dari kerinduan yang sudah lama ia simpan.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan.
Tok… tok…
“Gilang, sudah tidur?” suara ibu terdengar lembut.
Belum sempat ia menjawab, pintu terbuka pelan. Ibu masuk dan melihat Gilang masih duduk dengan pensil di tangan dan mata yang tampak berkaca-kaca.
Ibu mendekat dan duduk di sampingnya.
“Masih menulis cerita untuk lomba?” tanya ibu pelan.
Gilang mengangguk:
“Iya, Bu.”
Ibu memperhatikan wajah anaknya:
“Gilang menangis?”
Gilang menunduk:
“Gilang nggak tahu harus bagaimana, Bu. Pas menulis… rasanya kaya bapak ada di sini.”
Ibu tersenyum kecil, matanya ikut berkaca. Ia lalu mengusap kepala Gilang.
“Itu tandanya kamu menulis dari hati. Tidak semua orang bisa menulis dengan perasaan. Gilang harus bangga.”
Gilang terdiam. Ia merasa sedikit lega.
“Apa Ibu boleh lihat?” tanya ibu.
Gilang mengangguk pelan.
Ibu mengambil buku itu dan mulai memperhatikan tulisan Gilang walau dirinya tidak bisa membaca akan tetapi ia memiliki insting kuat kalau tulisan anaknya mewakili perasaan. Suasana menjadi hening. Satu-satunya suara hanyalah hujan yang menempel di atap.

Gilang mengambil tulisan itu dan membaca untuk ibunya, Tulisan itu sederhana, tetapi penuh makna: tentang bapak yang berangkat sebelum fajar, tentang rasa rindu saat bapak jauh di Bali, tentang sakit yang membuat semua cemas, dan tentang harapan agar suatu hari nanti keluarga bisa hidup bersama tanpa jarak.
Saat Gilang selesai membaca, Ibu Gilang memeluk Gilang pelan.
“Kamu sudah melakukan hal yang luar biasa, Nak,” katanya suara lirih.
“Bapak pasti sangat bangga jika bapakmu bisa membaca dan menulis.”
Gilang memeluk ibunya balik.
“Bu, aku pengen bapak cepat pulang.”
“Bapak juga ingin pulang,” jawab ibu sambil tersenyum.
“Dan doa kamu akan sampai ke sana.”
Beberapa menit kemudian, ibu berdiri.
“Sekarang kamu lanjutkan atau mau istirahat dulu?”
“Aku lanjutkan, Bu. Aku masih ingin menulis.”
Ibu mengangguk bangga.
“Baik. Ibu tunggu di ruang tengah. Kalau butuh sesuatu, panggil Ibu.”
Saat pintu kembali tertutup, Gilang kembali menatap kertasnya. Air mata belum sepenuhnya kering, tetapi perasaan sedihnya berubah menjadi kekuatan.
Ia menulis lagi lebih jujur, lebih tulus, lebih dalam.
“Bapakku mungkin tidak memakai seragam hebat atau bekerja di kantor besar. Tapi bapakku adalah pahlawan yang tidak kenal lelah. Ia mengajarkan aku arti semangat, sabar, dan cinta. Jika suatu hari aku berhasil meraih cita-citaku, aku ingin bapak berdiri di sampingku, tersenyum bangga seperti hari ketika aku lahir.”
Ketika kalimat terakhir selesai ditulis, Gilang meletakkan pensilnya dan menarik napas panjang. Rasanya seperti melepaskan sesuatu dari dalam dada sesuatu yang berat, tapi akhirnya lega.
Ia menutup buku itu perlahan dan tersenyum kecil.
Dengan hati yang lebih ringan, ia bergumam pelan:
“Bapak… tunggu Gilang. Gilang sedang berusaha menjadi anak yang membuat Bapak bangga.”
Dan malam itu, di bawah hujan yang masih turun, Gilang tertidur dengan senyum damai membawa cerita, harapan, dan cinta dalam hatinya.
=================================================================
Garahan, 28 November 2025 / Jum'at, 5 Jumadil Akhir 1447 H, 07.00 WIb
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
