Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 18 Hujan dan Doa di Pagi Hari (T.642)

Episode 18 Hujan dan Doa di Pagi Hari (T.642)

Pagi itu, suara hujan terdengar deras mengguyur atap rumah. Petir sesekali menyambar jauh di kejauhan, membuat udara semakin dingin dan suasana terasa muram. Gilang membuka matanya perlahan dan melihat jendela kamarnya yang berkabut.

Ia terkejut.

“Hah! Sudah pagi?”

Ia buru-buru duduk dan melihat buku tulisnya di meja, yang berisi cerita tentang bapakncerita yang harus dikumpulkan hari ini.

“Ya Allah… aku belum masukkan ke map!” serunya panik.

Dengan cepat ia merapikan buku itu, memasukkannya ke dalam map plastik warna biru. Setelahnya, ia menyiapkan seragam madrasah, merapikan pecinya, lalu ke dapur untuk sarapan. Namun hari itu, sarapan hanya berupa nasi tadi malam masak dan goreng tempe, karena hatinya lebih cemas dibanding lapar.

“Bu, hujannya deras banget… nanti kalau telat gimana?”

Ibu tersenyum sambil menyodorkan jas hujan plastic tipis kecil miliknya.

“Kalau niatnya baik, insyaallah Allah permudah. Kamu jangan khawatir.”

Gilang menarik napas panjang. Kata-kata ibu seperti menenangkannya sedikit. Ia memakai jas hujan, menggantungkan map birunya di dalam tas agar tidak basah.

Sebelum keluar rumah, ibu memanggilnya.

“Gilang…”

“Ya, Bu?”

Ibu meraih tangan Gilang, lalu mengecup keningnya.

“Semoga Allah jaga langkahmu, Nak. Semoga tulisanmu menjadi amal shalih.”

Gilang tersenyum kecil,

“Aamiin, terima kasih bu.”

Gilang mencium kedua tangan ibunya. Saat ia mulai berjalan, hujan terasa seperti tirai air yang menutup jalanan. Setiap langkah membuat celana dan sepatunya basah. Payung kecil di tangan ibu menjaga bagian atas tubuhnya tetap kering, namun angin kadang membuat air masuk dari samping.

Walau begitu, Gilang tetap berjalan, memeluk tasnya erat-erat.

Di tengah perjalanan, ia berhenti sejenak di bawah pohon besar yang sedikit menahan air hujan. Nafasnya terengah karena berjalan cepat.

Ia melihat ke langit yang kelabu dan berdoa dalam hati:

"Ya Allah, jangan biarkan cerita ini basah atau terlambat sampai ke madrasah. Aku menulisnya untuk Bapak, untuk lomba, dan untuk kebaikan. Tolong bantu Gilang."

Meski hujan tak berhenti, doa itu membuat langkahnya kembali ringan.

Saat sampai di depan gerbang madrasah, Gilang melihat beberapa temannya sudah berkumpul. Mereka juga basah oleh hujan. Ada yang tertawa, ada yang mengeluh, ada yang memerah hidungnya karena dingin.

Ibu Rohmah berdiri di depan pintu kelas, memegang payung dan tersenyum hangat menyambut semua murid.

“Subhaanallah… luar biasa kalian semua pagi ini,” katanya lembut.

“Hujan deras tidak menghentikan semangatmu ke madrasah.”

Gilang berjalan mendekat. Ketika tiba giliran, Bu Rohmah menunduk sedikit.

“Gilang… kamu bawa tulisannya?”

Dengan hati-hati, Gilang mengeluarkan map birunya. Tasnya basah, namun map itu masih kering. Ia menyerahkannya dengan tangannya yang sedikit bergetar.

“Alhamdulillah,” ucap Bu Rohmah sambil memegang map itu seperti sesuatu yang berharga.

“Kamu menjaganya dengan baik.”

Gilang mengusap wajahnya yang basah oleh hujan.

“Saya takut telat, Bu…”

Bu Rohmah menggeleng pelan.

“Tidak ada yang telat dalam kebaikan selama kamu berusaha. Allah selalu lihat usahanya dulu.”

Kata-kata itu membuat dada Gilang terasa hangat.

Di dalam kelas, anak-anak duduk sambil mengeringkan baju dengan tangan. Suasana hangat meski dingin masih terasa di udara.

Bu Rohmah berdiri di depan kelas dan berkata,

“Anak-anak, hari ini bukan hanya tentang mengumpulkan tugas. Hari ini tentang keberanian, ketekunan, dan cinta kalian kepada keluarga serta madrasah.”

Semua murid memperhatikan.

“Hujan yang deras tidak menghentikan langkah kalian. Karena itu, kalian semua adalah pemenang sebelum lomba dimulai.”

Beberapa murid bertepuk tangan kecil, dan Gilang merasa matanya kembali hangat.

Bukan karena sedih.

Tapi karena bangga pada dirinya sendiri.

Ia menatap keluar jendela hujan masih turun, tapi tidak lagi terasa menakutkan.

Justru terasa seperti berkah.

Gilang menarik napas panjang dan tersenyum.

Hari itu, ia belajar bahwa keberanian tidak selalu tentang memenangkan lomba kadang keberanian adalah tentang tetap melangkah, meski hujan menghalangi jalan.

Dan dalam hatinya, ia berbisik pelan:

“Bapak… ini untukmu.”

===================================================================

Garahan, 29 November 2025 / Sabtu, 6 Jumadil Akhir 1447 H, 07.00 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post