Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 2 Ayah Gilang sebagai Tukang sapu di Denpasar (T.625)

Episode 2 Ayah Gilang sebagai Tukang sapu di Denpasar (T.625)

Gilang adalah anak yang penurut kepada orang tua dan gurunya. Ia rajin membantu orang tuanya terutama ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang masak di warung milik tetangganya. Selagi Ibunya belum pulang dari tempat kerjanya, Gilang membantu ibunya membersihkan rumah dengan menyapu di dalam rumah dan halaman rumahnya. Bila ada piring atau alat masak lainnya berada di tempat cuci piring dengan sigap ia mencucinya. Bajunya yang kotor tidak luput ia cuci di kamar mandinya. Bila keadaan rumah sudah bersih, Gilang akan bermain bersama teman-temannya.

Sejak kelas 3, Ayah Gilang bekerja di Bali di kota Denpasar sebagai tenaga kebersihan bersama bibi dan pamannya yang terlebih dahulu bekerja disana. Dahulu ayahnya bekerja sebagai pedagang bakso keliling kampung, karena persaingan pedagang bakso semakin banyak, ayahnya banting setir menjadi tukang sapu di pulau seribu pura. Mau tidak mau pekerjaan ini terus dilakukan karena ayahnya menginginkan Gilang terus sekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Keterbatasan fisik ayah Gilang tidak menyurutkan untuk menafkahkan anak-anaknya yang berada di kampung pulau Jawa. Ayah Gilang tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar, Tuli dan Bisu itulah yang disandangnya sejak lahir. Namun, Sang ayah pernah mengenyam pendidikan di sekolah dasar sehingga ia bisa menulis dan berhitung.

Jika ayahnya tidak bisa pulang, ia mengirimkan pesan melalui HP bahwa ia kangen sama Gilang dan anak-anak lainnya yang berada di kampung dan tidak bisa pulang karena tidak mempunyai hari cuti. Jika hari libur, Gilang bersama ibunya pergi ke Bali sekedar mengobati rasa rindunya kepada ayahnya selama beberapa hari di sana. Gilang melihat secara langsung pekerjaan ayahnya, setiap pagi buta ayahnya sudah menarik gerobak sampah keluar dari gang tempat ayahnya mengontrak, menyapu sampah yang ada dibahu jalan raya, apabila ada botol bekas, ia menyimpannya di karung plastik yang ada di belakang gerobak, apabila gerobak sampah telah penuh, dengan semangat ayahnya mendorong ke tempat pembuangan sampah yang tak jauh dari rumah kontrakannya.

Gilang selama liburan di Bali tidak serta merta liburan ke tempat wisata seperti pantai Sanur, Kuta, Pandawa, Tanah Lot atau tempat-tempat wisata lainnya yang terkenal di Pulau Dewata. Gilang malah membantu ayahnya memisahkan barang-barang yang bisa dijual seperti botol plastik, besi, bahan-bahan lainnya. Setiap bulannya Ayahnya mendapat gajian dari pemerintah daerah, akan tetapi perolehan penjualan barang bekas lebih banyak hasilnya daripada uang gajian setiap bulannya. Sedikit demi sedikit ayahnya menyisihkan uang untuk ditabung di dalam kaleng bekas yang cukup besar untuk berjaga-jaga apabila suatu hari nanti dibutuhkan untuk kepentingan keluarga terutama kebutuhan sekolah Gilang dan dua saudara lainnya yang dipondokkan sedangkan saudara tertuanya sudah bekerja di pemerintahan desa.

Ketika Gilang melihat bahkan terlibat membantu pekerjaan ayahnya, Ia berpikir dan merenung bahwa ia harus belajar dengan sungguh-sungguh tidak akan mengecewakan ayahnya yang telah membiayai sekolahnya selama ini.

=================================================================

Garahan, 10 November 2025 / Senin, 19 Jumadil Awal 1447 H, 08.13 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post