Episode 4 Empat Saudara Satu Atap (T.427)
Gilang anak keempat dari empat bersaudara, boleh dikatakan anak bungsu. Saudara Gilang pertama namanya Sabil, nama lengkapnya Muhammad Sabilillah, saudara kedua bernama Muhammad As’adur Rohman dan Saudara ketiga bernama Siti Nurhayati.

Mereka rukun, saling berbagi, menyayangi satu sama lainnya, namanya anak-anak apalagi satu saudara sering kali bertengkar berebut mainan, makanan atau hal lainnya. Walaupun orang tua mereka banyak mempunyai keterbatasan, Ibu dan bapak mereka menyekolahkan keempat anaknya, Sabil sekarang bekerja di Instansi pemerintah, As’ad mondok bersama Nurhayati mondok di desa tetangga dan Gilang sendiri masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah di kampungnya.

Sabil telah bekerja dan menempati rumah dinas di desa tidak lagi serumah dengan saudara-saudaranya, Sabil memaklumi keadaan rumahnya yang sederhana dengan kamar yang terbatas sedangkan As’ad dan Nurhayati telah dimondokkan sehingga Gilang tinggal sendiri bersama ibunya.
“Bu, Gilang kalau sudah lulus sekolah mau mondok seperti kakak As’ad dan Kak Nur,” celetuk Gilang di suatu malam ketika selesai belajar.
“Wah bagus tuh Gilang, Ibu mendukung keputusan ini, memangnya mau mondok dimana?” Tanya ibu Gilang.
“Heemmm di kota bu!”
“Hah dikota?” mata ibu Gilang terbelalak mendengar keinginan anaknya.
“Iya bu, kenapa?”
“Tidak apa-apa Gilang, Ibu hanya bisa mendoakan semoga keinginan Gilang tercapai,”
“Amin Ya Robbal Alamin,” Telapak tangan Gilang diusap kewajahnya agar doa ibunya dikabulkan oleh Allah.
“Ayo tidur sudah malam, jangan lupa cuci tangan dan kaki sebelum tidur lang!”
Gilang bergegas menuju kamar mandi dibelakang dapur dan kembali ke kamarnya merebahkan tubuhnya menarik selimut dan berdoa sebelum tidur.
Ibunya menarik kelambu kamar tidur Gilang seraya menatap wajah anaknya yang masih polos sebelum kembali ke kamarnya untuk tidur.

Beberapa menit, mata Ibu Gilang belum juga terpejamkan memikirkan anak-anaknya terutama Gilang yang masih duduk di kelas 5 sudah berangan-angan ingin mondok dan sekolah dikota. Dia menatap ke langit-langit kamarnya menghela napas panjang sambil memegang tasbih berusaha menyambung hatinya dengan Sang Maha Pencipta agar doanya dikabulkan. Anak-anaknya kelak menjadi orang sukses dan tercapai cita-citanya.
“Ya Allah, Hamba-Mu memohon agar doa-doa ini terkabulkan, Jadikanlah anak-anak hamba-Mu menjadi orang yang berguna, berbhakti kepada orang tua dan guru-gurunya. Tercapai cita-citanya, mudahkanlah urusan hamba-Mu, lapangkanlah rejeki kami. Berilah kesehatan bagi suami yang berada nun jauh disana agar mampu menjadi seorang ayah yang dibanggakan, Amin Ya Robbal ‘Alamin.”
Malam telah larut, hanya bintang yang menghiasi langit hitam tanpa bulan, suara katak terdengar sahut-sahutan di sawah dibelakang rumah, Jangrik pun ikut meramaikan suasana malam di perkampungan. Akhirnya Ibu Gilang memejamkan mata diselimuti doa yang tak pernah terputus.
===================================================================
Garahan, 12 November 2025 / Rabu, 21 Jumadil Awal 1447 H, 07.48 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
